image

image

Sunday, September 6, 2009

naSIHAT - FIkirKAN

................. berkenaan isu-isu yang telah terlanjur terdengar tentang fitnah-fitnah yang menyebar, maka bagaimana sikap kita terhadap jamaah persatuan yang di tuduh sesat itu. Apakah benar tuduhan bahawa mereka adalah ahlul bid’ah, bolehkan kita mengambil ilmu dari mereka, misalnya dari tulisan-tulisan mereka.

Jawaban:

Ikhwani fillah rahimakumullah, terutama bagi yang bertanya tentang masalah ini.
Yang ingin kami sampaikan kepada saudara, yang pertama bahwa hendaknya
anda bertakwa kepada Allah azza wa jalla di dalam mengambil ilmu. Artinya
ambillah dari orang-orang yang kita percaya dari keilmuan mereka, manhaj dan
aqidah mereka.

Kemudian yang kedua, bahwasanya yang wajib anda pelajari adalah bahwa
hendaknya anda belajar ilmu yang banyak. Anda mempelajari ilmu ini dengan
benar dalam masalah aqidah, dalam masalah manhaj, dalam masalah muamalah
dan lain-lain sebagainya.
Insya Allah dengan bekal ilmu yang anda miliki anda akan bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Dengan demikian, apabila anda melihat suatu buku dari siapapun bukunya, entah dari jamaah persatuan ini atau yayasan itu atau dari hizbi yang mana ataupun yang mana. Maka apabila seseorang memiliki ilmu, dia akan mengetahui arah pembicaraan yang ada di dalam kitab itu.
Oleh karena itu yang ingin saya sampaikan kepada –terutama baik yang hadir saat ini maupun yang mengikuti pengajian ini- hendaknya kalian betul-betul belajar aqidah yang benar, manhaj yang benar dari orang-orang yang bisa dipercaya. Dengan demikian anda bisa mengetahui apabila mendengar suatu pembicaraan ke arah mana pembicaraan itu.
Seorang yang berilmu akan tahu, mana orang yang sururi, mana yang bukan sururi, mana yang ahlul bid’ah asy’ari mana yang bukan asy’ari, mana yang maturidi mana yang bukan maturidi, mana yang mengajak kepada wala kepada yayasan mereka mana yang tidak mengajak untuk wala kepada yayasan mereka. Ini, apabila seseorang memiliki ilmu, dia akan mengetahuinya.

Adapun jamaah persatuan yang dituduh sesat seperti yang anda sebutkan dalam kaitan ini, seperti As-S***a, kami mengatakan yang sebenarnya kepada yang bertanya ini bahwa ,dengan ilmu yang anda miliki, anda bisa menilai apa yang mereka kerjakan.
Karena tidak ada suatu jamaah persatuan pun yang kita lihat di zaman ini yang murni
seratus persen bersih dari hal-hal seperti hizbiyah atau pembelaan terhadap
suatu kelompok tertentu, ini tidak lepas dari itu semuanya. Kecuali hanya sedikit
–satu dua diantara itu- maka dari itu, apabila – jamaah persatuan itu tatkala mereka memberikan ilmu atau memberikan bantuan atau memberikan yang lainnya dengan tekanan, maka anda wajib menolaknya. Apabila ada tekanan. Tapi selama itu bersifat bantuan yang insya Allah tidak mengganggu aqidah anda, tidak mengganggu manhaj anda dan anda bisa berjalan berdakwah dengan benar atau mendapat ilmu dengan benar, maka sebatas itu anda boleh membaca kitab mereka. .


Boleh membaca kitab mereka, selama kitab mereka selamat dan bantuan-bantuan
yang mereka berikan tidak ada tekanan. Dan dengan belajar insya Allah anda
akan bisa mengetahui mana yang haq dan mana yang batil, mana yang sururi
dan mana yang bukan sururi.
Kami pun tidak lepas dari tuduhan-tuduhan itu, tapi kami yakin bahwa yang menuduh kami seperti itu adalah orang-orang yang hasad kepada kami, yang dengki kepada kami. Kemudian mereka mendatangkan bukti-bukti yang tidak bisa membedakan mana yang mahad Al-Irsyad dan mana yang disebut organisasi atau jam’iyah Al-Irsyad. Kami pun terkena dengan fitnah-fitnah seperti ini, tetapi kami tetap berjalan. Sebagaimana dikatakan oleh pepatah dalam bahasa Arab: ‘anjing terus menggonggong dan kafilah tetap berjalan’.
Ini peribahasa dari bahasa Arab.
Kita banyak disibukkan oleh hal-hal seperti ini di dalam berdakwah. Mereka
memfitnah dengan fitnahan-fitnahan yang tidak benar, yang hanya hasad dan
dengki yang ada pada mereka dan tidak terbukti.
Kalaupun ada satu hal dua hal yang mungkin seorang manusia bisa saja dia melanggar, maka kami katakan bahwa kita pun manusia biasa, kita bukan malaikat. Dan yang jelas kita tidak ridha terhadap kesalahan, kita tidak ridha kepada kemungkaran, kita tidak ridha kepada hizbiyah, tetapi kita berkewajiban untuk berdakwah kepada manusia agar mereka berjalan kepada jalan yang benar.

Maka fitnahan-fitnahan seperti ini hendaknya anda tabayyun kepada orangnya.
Hendaknya anda mendengar dan tabayyun kepada orang yang disebutkan
namanya atau jamah persatuan yang disebutkan.

Intinya bahwa saya ingin nasihatkan kepada anda agar anda tidak banyak disibukkan oleh hal-hal seperti ini, yang membuat anda nanti tidak mempunyai ilmu dan akhirnya anda tidak bisa mendapatkan ilmu dari siapapun.
Intinya anda belajar ilmu, insya Allah anda bisa membedakan mana yang haq mana yang batil.
Tapi ketahuilah bahwasanya kitapun harus mengetahui, seperti jamaah persatuan yang anda sebutkan ini, mereka orang Muslimin. Kalau mereka salah kita ingatkan. Kita berkewajiban untuk mengingatkan. Kalau kita sudah mengingatkan, mereka tetap berjalan kepada jalannya, kita terlepas dari hal itu.
Tapi kita tidak bisa kemudian mengatakan kepada mereka, kita tidak boleh salam kepada mereka, kita harus bara’ seperti bara’-nya seorang Muslim kepada orang kafir. Tidak demikian. Itu bukan manhajnya para salaf.
Kita wajib menasihati kepada mereka dan mengajak mereka kembali kepada jalan yang benar.

Saturday, September 5, 2009

IsTiWa di atas

A. Dalil Sifat Istiwa’

Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
Artinya:

“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy' .”

Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Artinya:

“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy berada' .”

1. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ -فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ- إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya (Al-Lauh Al-Mahfuzh) – dan kitab itu bersama-Nya di atas ‘Arsy ' – : “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy .” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw)

B. Arti Istiwa’

Lafazh istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) dalam bahasa Arab – yang dengannya Allah menurunkan wahyu – berarti (عَلاَ وَارْتَفَعَ), yaitu berada di atas (tinggi/di ketinggian). Hal ini adalah kesepakatan salaf dan ahli bahasa. Tidak ada yang memahaminya dengan arti lain di kalangan salaf dan ahli bahasa.

Adapun ‘Arsy, secara bahasa artinya Singgasana kekuasaan. ‘Arsy adalah makhluk tertinggi. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Maka jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Al-Firdaus, karena sungguh ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya singgasana Sang Maha Pengasih, dan darinya sungai-sungai surga mengalir.” (HR. Al-Bukhari)


C. Beberapa Peringatan Penting

Pertama:
Istiwa’ adalah hakikat dan bukan majas. Kita bisa memahaminya dengan bahasa Arab yang dengannya wahyu diturunkan. Yang tidak kita ketahui adalah kaifiyyah (cara/bentuk) istiwa’ Allah, karena Dia tidak menjelaskannya. Ketika ditanya tentang ayat 5 Surat Thaha (الرحمن على العرش استوى), Rabi’ah bin Abdurrahman dan Malik bin Anas mengatakan:

الاِسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ، وَاْلكَيْفُ مَجْهُوْلٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ.

“Istiwa’ itu diketahui, kaifiyyahnya tidak diketahui, dan mengimaninya wajib.” (Al-Iqtishad fil I’tiqad, Al-Ghazali)

Kedua:
Wajib mengimani dan menetapkan sifat istiwa’ tanpa merubah (ta’wil/tahrif) pengertiannya, juga tanpa menyerupakan (tasybih/tamtsil) sifat ini dengan sifat istiwa’ makhluk.


Ketiga:
Menafsirkan istawa (اِسْتَوَى) dengan istawla (اِسْتَوْلَى) yang artinya menguasai adalah salah satu bentuk ta’wil yang bathil.

Penafsiran ini tidak dikenal di kalangan generasi awal umat Islam, tidak juga di kalangan ahli bahasa Arab. Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan bahwa penafsiran ini pertama kali dimunculkan oleh orang-orang Jahmiyyah dan Mu’tazilah.
Mereka ingin menafikan sifat keberadaan Allah di atas langit dengan penafsiran ini. Kita tidak menafikan sifat kekuasaan bagi Allah, tapi bukan itu arti istiwa’.

kesimpulannya, jika Allah idak bertempat, peliklah, sebabnya jika tak ada tempat manusia tu merempat, Allah dengan kesempurnaan, eloklah di atas segala galanya, muga mengerti, dan mahulah tunduk patuhi perentah Allah.

dengan apa kita Hidup, dengan Allah lah, walaupun memakan makanan, dan menghirup oksijan, tetapi oksijan tu hanyalah bahasa sains, sebenarnya ialah ruh luhur yg memberi kehidupan, di bumi ni saja sesuai untuk manusia, se eloknya kajilah dalam diri sendiri, waktu

Friday, September 4, 2009

Dekat tanpa sempadan, Jauh tak bertepi

mari kita semak al Quran:

"Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" (Surat Qaaf , ayat 16)

" Tuhan kamu (Allah) berfirman,"Berdoalah kepadaKu , niscaya Aku perkenankan bagimu." Sesungguhnya orang-orang yang takabur dari menyembahKu , mereka akan masuk jahannam dalam keadaan terhina" (Surat Al Mu'min ,ayat 60)

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) , sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Sebab itu hendaklah mereka memohon perkenan kepadaKu dan berimanlah kepadaKu , supaya mereka memperoleh petunjuk." (Surat Al Baqarah , ayat 186).


1. Dalam Surat Al Baqarah ayat 186 , terdapat kata 'ibaadi , yang diterjemahkan menjadi hambaKu. Rupanya ada keterbatasan kosa kata dalam bahasa melayu/Indonesia , sehingga dua kata Arab 'ibaadi dan abid , sema-sama diterjemahkan menjadi hambaKu.

Padahal ada perbedaan kontekstual yang cukup penting di antara keduanya. Allah akan menyebut abid untuk hambaNya secara umum , sementara 'ibaadi diperuntukkan untuk hambaNya yang khusus.
Kekhususan makna hamba dalam kata-kata 'ibaadi , tercermin dalam lanjutan ayat 186 tersebut, yaitu yang dirinya dekat dengan Allah , yang Allah akan memperkenankan doanya bila dia berdoa.
Allah SWT senantiasa dekat dengan kita , tercermin dalam tiga ayat di atas , persoalannya apakah kita dapat merasakannya , atau tidak , yang intinya kita , sebagai manusia ciptaanNya akan merasakan kedekatan dengan Allah bila kita telah menjadi 'ibaad , yang senantiasa memelihara keimanan dengan senantiasa memohon perkenan dariNya dan hidayahNya.

berkata tuan yg menulis tentang itu: iaitu adalah dia saudara Sigit Haryadi:

2.Tulisan ini dibuat , karena saya tergelitik oleh seringnya saya dengar ucapan dari saudara-saudara seiman sebagai berikut : Semoga Tuhan senantiasa dekat denganmu. Padahal Allah sudah menyebutkan bahwa Dia senantiasa sudah dekat dengan kita, tetapi karena ada kekurangan kita yang menyebabkan kita tidak mampu merasakannya. Kiranya lebih baik diganti dengan ucapan :"Semoga engkau senantiasa dapat merasakan kedekatan dengan Allah, maka peliharalah imanmu, dan berdoalah agar Allah senantiasa melindungi mu dengan cahaya hidayah NYA

** terimakasih ya tuan, semuga di terima Allah amal yang sedikit ini

Syariat , Hakikat, Makrifat, itu berSATU

Apakah makna syariat, hakikat , makrifat itu ?


Sebenarnya syariat itu tidak boleh dipisahkan dengan hakikat dan makrifat.
Karena dibalik syariat itu ada hakikat ….seperti wujud gula tidak boleh dipisah dengan manisnya… Jika ada orang yang memakan gula namun tidak merasakan "manis" maka berarti ada yang salah atas lidah orang itu, ... mungkin sedang sakit (sariawan).

Begitu pula orang yang melakukan shalat, jika dia tidak merasakan apa-apa dalam shalatnya, maka jelas ada yang salah didalam hatinya, ... mungkin hatinya
sedang sakit, sehingga tidak mampu menangkap kelazatan shalat tersebut … Hatinya tertutup karena tidak mendapat sinar ilahi.



Hakikat itu adalah kebenaran atas syariat itu sendiri, misalnya ada nash yang menyatakan bahwa "berpuasalah maka niscaya kalian akan sehat". Kalimat ini adalah teks syariat, yang jika kita melakukan puasa dengan benar, ... dan ternyata kita mendapatkan manfaat dari puasa, seperti merasa badan lebih sehat dari sebelumnya… Dan para pakar menyatakan, bahwa memang puasa itu menyebabkan sehat bagi tubuh manusia maupun mental ….. Hal inilah yang dimaksud dengan hakikat / rahasia dibalik syariat atau firman.



Kalau anda mendapatkan manfaat itu, maka anda adalah orang yang disebut yang mengetahui (atau makrifat atas kebenaran ayat tersebut), bukan mengakui secara intelektual saja akan tetapi mengetahui secara transendental.



Setiap syari'at itu mengandung hakikat dan didalam hakikat itu ada pengetahuan atau makrifat…tidak boleh dipisahkan.



Syariat : membahas aspek dalil atau nash, seperti aqimush shalata wa atuz zakata (dirikanlah shalat dan bayarlah zakat ( An nisa': 77 )



Thariqah : membahas aspek praktis dan kesempurnaannya, bagaimana takbir yang baik, rukuk yang baik, sujud yang baik serta mengatur perjalanan rohani agar tidak menyimpang dari shalat.



Hakikat : membahas aspek ruhiyah, masalah hikmah atau dampak dari pelaksanaan syariat, seperti dalam "inna shalata tanha anil fahsyai wal munkar", sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" (Al Ankabut :45), untuk itu bagi orang yang shalat namun ia tidak mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka orang tersebut tidak mendapatkan hakikat dari shalat, sehingga Allah mengkritik pelaku shalat dalam surat Al Maun : 4-6) :



"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) oang-orang yang lalai dari shalatnya, yaitu orang-orang yang berbuat riya"



Ma'rifat : adalah orang yang telah mengalami keadaan shalat tersebut secara transenden, orang yang merasakan manisnya iman, ... orang yang merasakan kelezatan shalat dan orang yang mengetahui tentang Allah (makrifatullah)



Ilmu makrifat adalah ilmu yang membahas masalah sifat, asma, af'al dan dzat Allah.



Dengan demikian sangatlah tidak relevan jika istilah-istilah itu menjadikan ummat berpecahan, ... yang mungkin terjadi adalah, perbedaan pengalaman dalam mejalani syariat tsb. Ada yang merasa bahwa syariat itu memberikan dampak kepada jiwanya sehingga hatinya menjadi damai, ... ada sebagian orang tidak merasakan apa-apa dalam bersyariat, bahkan syariat itu menjadi beban bagi dirinya. Perbedaan itu seharusnya menjadi koreksi bagi kita semua ….benarkah syariat itu.

Friday, August 21, 2009

OFFER offer - it's a kind of MAGic - Ulang tayang

OFFER offer - it's a kind of MAGic
Offer offer
kepada sesiapa yang mahu
Ilmu merawat diri sendiri tanpa makan ubat
bukan syirik dan bukan minta tolong jin atau bunian
bukan membaca ayat atau jampi serapah
ilmu terbit daripada TaUHID

boleh datang bertamu, bersoal jawab terlebih dahulu, yakinlah
jangan yakin kepada kami, yakinlah kepada Allah

setiap orang berhak mendapatkannya, terkecuali, mereka yang tak punya kehendak

jika anda mengalami, penyakit barah, sehinggakan doktor hanya menasihatkan, di bedah - anda bolehlah telefon kami, atau datang jumpa kami, inshallah, boleh di elakkan pembedahan - yakinlah kepada Allah

jika anda mengalami tension yang berlarutan, migrain, kerisauan, kekosongan jiwa, resah gelisah, boleh laa datang jumpa kami, yakinlah kepada Allaah

jika anak kalian sukar di jinakkan, anda bolehlah datang jumpa kami, inshallah, yakinilah Allaah

ke semua masalah, boleh di rawat, dengan yakin kepada Allaah, tetapi ..........................

wahai kamu yang berselimut - bangunlah, dirimu sucikanlah, Tuhanmu agungkanlah -
(ruh yang di selimuti fizikal atau jasad yg molek, bangunlah, sedarlah ) .............................

cuba kita kaji kembali, manusia terawal dahulu, dan selepas itu, dengan apakah mereka merawat diri sendiri?

dalam kisah nabi ayub a.s , dirinya hilang anak anak, dan isteri, hilang harta, mengalami sakit yang teruk, kemudian, dengan apakah ia berubat?

ya Allah, aku tahu....Syaitan cuba mengoda aku................ benar tu ayub, syaitan dah mengaku kalah, kamu memang orang yg sabar, tunjal ke tanah ....... air yg terbit kamu minum dan mandi, demikian kisah, it is a kind of magic, Mukjizat bagi nabi, pada kita ilmu.................... carilah jika mahu

offer offer

it is a kind of magic

ada duit berjuta pun, jika tiada orang menyampaikan, boleh kah bertemu?

Allah, membuka peluang peluang, kepada setiap diri, berdasarkan, kehendak kehendak dalam diri manusia itu........................ it is up to you

up to you sir, i offer!.................JOOOMLA, hu hu

Monday, August 17, 2009

Pesanan....Fikirkan......

Manusia yang dapat GURU mursyid tu, sama macam wali, dan wali wali Allah yang lain itu, tak jumpa dengan dia, sebab, masing masing sama taraf, sama tugas, lagi pula wali yang dah meninggal dunia, tak akan balik ke dunia, kerana dunia ibarat bangkai.
yang ada manusia dakwa jumpa wali ( orang tu dah meninggal dunia) itu adalah jin, yang menyerupai orang yg telah mati tu.
sebab itu, jangan tersalah pilih guru..... ada ramai yang berdamping dengan jin, ada yg sedar, dan ramai yang tidak sedar. Cubalah tanya someone, such as, dr harun din,atau amran kasimin ke, dia deal dengan siapa, sewaktu melakukan tugas .........( rawat pesakit , ubah jin )
ada bekas Imam di perak, gurunya di kedah, guru wali di atas puncak gunung jerai, tanpa sedar dia bermain main dgn jin, di sangkanya Guru mursyid.
itu orang ada ilmu syariat tu, pun masih terpedaya..........
ingatlah yang Allah idak memandang pakaian zahir, tetapi mengetahui apa yg di kandung dalam hati.
bila ada ILMU, dunia ini FREE sahaja, demikianlah kata kata Orang yg mengetahui yang berjumpa dgn Mursyid, yang dirinya ( belum pergi dah balik, belum tanya dah jawab, di panggil menyahut, di pegang terasa )
Hidup macam manusia lain, berkahwin, dan bekerja, tetapi bukan dia kerja utk cari duit, sebaliknya duit datang cari dia. Lihat sirah, rasulullah cari duit ke, atau melakukan kerja dakwah, membawa kebaikan.
Apabila hendak mencari Guru Mursyid, pertama Tauhid hendaklah mantap, jitu, Syariat , fekah kita pun tahu, tetapi, ingatlah itu cerita nabi Musa a.s, dia manusia ter alim di Mesir. Orang kelilingnya mengakui, memang dia paling alim di mesir. Tetapi Allah beritahu, ada yang lebih alim. Khidir manusia yang mengetahui masa depan ………… itu sebab di lubangkan sampan, di robohkan dinding/rumah ………….. ikut mata syariat, salah laku laa tu, itu sebab, pesanan dalam kisah tu…………….. Jika kita tak sabar, tak dapatlah nak berguru dengan yg Mursyid. Dan kuasa Allah itu tiada had, unlimited, ultimate, absolute. Syariat tu, sebab dan akibat, mahu cari Guru Mursyid, kena keluar dari ‘kotak syariat’ dalam diri.
Berserah pada Allah, tiada had menghalang, hanya dgn berkata Jadilah, maka terjadilah.

NOTICE to ALL Visitors and Friends

I've known someone, who can almost cure any sickness among mankind. why i said it, almost? First of all, the person him/her self need to have 'wanted to' to cure him/ her self.

With knowledge and nearer to 'PoWeR' who cure, any sickness happened to mankind, is because of no knowledge within him/her self.

scientific test only have certain degree of knowledge, there are so many thing that can not be seen, can not be counted for physically, but, people who believe, people with THE BOOK, know it.

if any of u wanted to have this knowledge, welcome, write a message to me.

if anybody wanted to cure someone, welcome....................

................ be happy, be wary, be good. Take care.