image

image

Tuesday, March 19, 2013

Darjat Ikhlas

TAHAP IKHLAS KEPADA ALLAH


Amal kebajikan apapun hanyalah laksana patung-patung kosong tanpa roh , tiada ertinya dan tidak bermanafaat sama sekali. Hanya amal ibadah yang mengandungi keikhlasan sahaja diterima oleh Allah SWT .

"IKHLAS" mempunyai beberapa tingkatan:

Ikhlasaashul 'Ibaadi.

Maksud ikhlas ini yang terdapat pada sebahagian besar hamba Allah yang melaksanakan amal-amal kebajikan di mana bersih dari dalam hatinya penyakit riya'. Yakni ia beramal bukan mahu menunjuk-nunjuk, bukan ada maksud untuk duniawi seperti mahu dihormati orang atau sebagainya tetapi melakukan amalan dengan mengharapkan balasan pahala dari Allah SWT dan mohon dijauhkan oleh Allah dari segala azab siksa di dunia atau di akhirat. Ikhlas yang begini merupakan keikhlasan tingkat yang terendah dari semua tingkatan keikhlasan.

Ikhlasaashul Muhibbiina.

Keikhasan dalam tingkatan ini adalah di atas nilai keikhlasan Al-'Ibaad. Yang dimaksud dengan keikhlasan Muhibbiin ialah bahawa beramal ibadah itu bukanlah maksudnya kerana mendapatkan pahala Allah dan bukan juga untuk menjauhi dari seksaan dan azab , tetapi tujuan beramal ibadah itu semata-mata untuk membesarkan Allah dan mengagungkanNYA. Sebab itu wali terkenal Rabi'ah Al-'Adawiyah berkata , maksudnya; "Aku tidak menyembah Engkau (ya Allah) kerana takut dari nerakaMU, dan pula tidak menyembah Engkau kerana menghendaki syurgaMU."

Keikhlasan ditingkatan ini tidak lagi dipengaruhi oleh hawa nafsu untuk dunia atau akhirat. Sekiranya masih lagi mengharapkan kesenangan dan kebahagiaan di hari akhirat maka keikhlasan ini belum mencapai ke tingkatan ikhlasaashul Muhibbiin.

Ikhlasashul 'Aarifiina.
Tingkatan keikhlasan tertinggi, merupakan keihklasan sejati yang tertinggi. Hamba Allah yang beramal diperingkat ini, mereka beramal sudah tidak lagi melihat kepada diri mereka, tetapi tertuju kepada Allah yang maha Esa, baik dalam geraknya ataupun dalam dalam diamnya. Betul-betul merasai pengertian hakiki seperti di dalam kalimat :
" Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan melainkan dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi yang Maha Agung."
Tujuan beramal di sini semata-mata untuk menghampirkan diri kepada Allah SWT. Bermula Tashihul Iradah (memperbaiki tujuan hati supaya menjurus kepada Allah), meningkat kepada Lillaahi Ta'ala adalah sifat setiap ahli ibadah, tetapi ikhlas ditingkatan ini adalah Billaahi Ta'ala, sifat orang yang beribadah semata-mata menuju Allah.
Beza beramal Lillaahi Ta'ala ialah mendirikan dengan baik hukum-hukum lahiriah, dengan beramal Billaahi Ta'ala ialah mendirikan kebaikan yang terkandung dalam hati yang bersih demi untuk tujuan berhampir kepada Allah. Inilah yang dimaksudkan oleh ulamak sufi:
"Betulkan lah amalan anda dengan ikhlas dan betulkan lah keikhlasan anda dengan melepaskan diri dari daya dan kekuatan (makhluk)."
kita lihat pandangan al ghazali
Menurut Imam Ghazali, 'IKHLAS' itu ada 3 tahap iaitu:

i. Tahap hamba - Kita buat sesuatu kerana kita takut Allah  marah

ii. Tahap pedagang - Kita buat sesuatu kerana pahala

iii. Tahap kekasih - Kita buat atas dasar seorang kekasih  kerana kita cintakan Allah

Antara tahap-tahap di atas, tahap kekasih adalah tahap yang paling tinggi antara semua sebab kita sayangkan hubungan kita dengan Allah. 

Jadi, di tahap manakah keikhlasan kita dalam menunaikan perintah Allah? 

Jawapannya terletak di atas pilihan kita sendiri kerana setiap tahap itu ada kesannya yg tersendiri terhadap diri kita

Sekiranya kita memilih:

i. Tahap hamba - Kita akan berasa penat dlm melakukan  ibadah       

ii. Tahap pedagang -  Kita akan berasa ibadah yg kita  lakukan itu sudah mencukupi, walhal
                                  ibadah-ibadah sunnah yg lain perlu  istiqamah

iii. Tahap kekasih - Kita tidak akan berasa penat dan jemu  untuk mendekatkan diri kpd Allah kerana perasan cinta kita kepada Allah sgt  mendalam. Tahap ini boleh dikaitkan dgn
                             kemanisan iman


  
Jadi, "tepuklah dada, tanya iman" ^__^

"Ikhlas itu satu rahsia daripada rahsia-rahsia aku. 
Aku letakkan dalam hati hamba aku yg terbersih" 

sambung sikit lagi

“Manusia tidak akan dapat mencapai hakikat kecuali dirinya suci murni 
kerana sifat sifat keduniaannya tidak akan meninggalkannya 
sehinggalah hakikat menyata dalam dirinya. 
Ini adalah keikhlasan sejati. 
Kejahilannya hanya akan meninggalkannya bila dia menerima pengetahuan tentang Zat Allah. 
 Ini tidak dapat dicapai dengan pelajaran; 
hanya Allah tanpa pengantaraan boleh mengajarnya. 
Bila Allah Yang Maha Tinggi sendiri yang menjadi Guru, 
Dia kurniakan ilmu yang daripada-Nya sebagaimana Dia lakukan kepada Khaidhir. Kemudian manusia dengan kesedaran yang diperolehinya sampai kepada peringkat makrifat di mana dia mengenali Tuhannya dan menyembah-Nya yang dia kenal.” (Syeihk Abdul Qadir Jailani; Sirrul Assrar) 




Sunday, January 13, 2013

Ikhlas Beramal

Kewajiban Ikhlas dalam Beramal

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ – وَفِي رِوَايَةٍ : بِالنِّيَّةِ – وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ .
Terjemah
Dari Umar bin Khaththab ra, ia berkata; Aku mendengar Rasulullah saw bersabda; Amal itu hanyalah dengan niat, dan bagi setiap orang (balasan) sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah (dengan niat) kepada Allah dan RasulNya, maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa berhijrah (dengan niat) kepada (keuntungan) dunia yang akan diperolehnya, atau wanita yang akan dinikahinya, maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada apa yang ia hijrah kepadanya.

Kata Kunci;
إنَّمَا : Kata ini berfungsi untuk membatasi suatu kata yang disifati pada sifat tertentu. Karena itu dalam bahasa Indonesia setara dengan arti kata hanyalah. Makna dari fungsi sebagai pembatas ini adalah menetapkan hukum yang disebutkan, dan meniadakan yang tidak tersebut.
النِّيَّات : adalah bentuk jamak dari ( النِّيَّة ) artinya; tujuan dan tekad di dalam hati untuk melakukan sesuatu. Tempatnya niat di dalam hati. Al-Baidlawi mengatakan, “Niat adalah dorongan hati untuk melakukan apa yang dia pandang sesuai dan baik untuk mendatangkan suatu manfaat dan menolak suatu bahaya”
هِجْرَةٌُ : Secara bahasa berarti meninggalkan. Secara syara’ yaitu meninggalkan negeri kafir menuju negara islam, atau dari negeri kacau menuju negeri yang aman. Dan kadang-kadang juga digunakan untuk menyebut sikap meinggalkan kemaksiatan menuju ketaatan
دُنْيَا : berarti dunia. Di dalam hadis ini kata dunia mencakup segala sesuatu yang diinginkan oleh hawa nafsu dan bisa dibanggakan di dunia, mencakup status sosial (kedudukan dan pangkat), harta, atau pun isteri (pasangan hidup). Adapun disebutnya wanita, menunjukkan pengkhususan dunia secara umum.
مَنْ : barangsiapa, di dalam hadis ini berfungsi sebagai syarat. Sehingga kata ( فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ) adalah kalimat syarat, jawabu syaratnya adalah kata (فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ). Dengan susunan seperti ini, kalimat tersebut berarti, ”Barangsiapa berhijrah (dengan tujuan) kepada Allah dan RasulNya maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada Allah dan RasulNya)

Sekilas tentang rawi
Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza. Masuk Islam pada tahun ke-6 setelah kenabian. Beliau diangkat sebagai khalifah setelah wafatnya Abu Bakar ash-Shiddiq, atas permintaan Abu Bakar. Menduduki jabatan sebagai khalifah selama 10 tahun. Wafat pada bulan Dzul Hijjah tahun 23 Hiijriyah, dalam usia 63 tahun karena dibunuh oleh musuh yang menyusup.
Penjelasan Singkat:
Hadis ini merupakan sebuah dasar paling penting dalam qaidah Islam. Para ulama’ memberikan penilaian terhadap hadis ini dengan penilaian yang tinggi. Sebagian di antaranya mengatakan hadis ini setengah agama, dan ada juga yang mengatakan sepertiga agama. Nilai pentingnya hadis ini terletak pada informasi yang dikandungnya, menyangkut standar utama diterima atau tidaknya amal manusia.
Rasulullah menginformasikan di dalam hadis ini bahwa amal itu tergantung kepada niatnya. Setiap perbuatan harus ada niat. Tanpa niat, suatu perbuatan tidak akan bernilai di sisi Allah. Demikian juga perbuatan yang diniatkan untuk selain Allah, juga tidak akan bernilai di sisi Allah.
Salah satu contoh amal dalam Islam adalah hijrah, yaitu meninggalkan negeri kufur menuju negeri Islam. Hijrah adalah amal yang sangat penting, hanya akan bernilai di sisi Allah kalau diniatkan karena Allah dan RasulNya. Jika amal itu diniatkan kaena dunia, maka Allah tidak akan memberikan balasan apapun. Jika beruntung, dia akan mendapatkan yang diniatkannya di dunia, dan jika tidak dia tidak akan mendapatkan apa-apa di dunia maupun di akhirat
Niat, akan membedakan apaah seseorang melakukan perbuatan karena kebiasaan belaka, atau sebagai ibadah. Contohnya mandi, apakah mandi itu mandi thaharah atau hanya untuk kebersihan
Niat juga membedakan satu jenis ibadah dengan jenis yang lainnya. Shalat dua rekaat, bisa sama rekaatnya tetapi berbeda pahalanya, karena beda niat. Contoh orang yang masuk masjid lalu ia shalat, ia bisa shalat tahiyyatul masjid, bisa shalat fajar, bisa juga shalat yang lainnya.

Pelajaran dari hadis
1- Niat adalah syarat pokok dalam beramal
2- Beramal dengan niat ikhlash, karena Allah semata.
3- Sah atau batal, sempurna atau kurangnya nilai amal, bahkan apakah suatu amal bernilai ibadah atau sekedar kebiasaan tergantung kepada niat.Orang yang melakukan suatu ibadah dengan niat riya’, ia berdosa. Pahala yang sempurna dari Allah hanya akan diberikan kepada orang yang beribadah dengan niat ikhlas lillahi ta’ala.
4- Tempatnya niat di dalam hati. Perlu atau tidaknya dilafalkan, membutuhkan dalil tersendiri. Jika tidak ada dalil yang memerintahkan untuk melafalkan niat, maka kembali kepada asalnya, niat di dalam hati. Melafalkan niat tanpa dalil bisa masuk ke dalam bid’ah
5- Seseorang harus cermat kepada niat amalnya, sehingga ia bisa beramal dengan niat yang ikhlas karena Alah semata;
6- Kewajiban mewaspadai riya’ dan hal-hal yang merusak keikhlasan.
7- Peringatan dari tujuan keduniaan, karena dunia adalah fitnah (ujian).
8- Melakukan ibadah dengan tujuan duniawi termasuk merusakkan keikhlasan, sehingga Allah tidak memberikan pahala di akhirat.
9- Dhahir hadis menunjukkan bahwa orang beramal akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya, maka orang yang beramal karena kepentingan dunia ia akan mendapatkan hasil di dunia saja. Pemahaman terhadap hadis itu harus dikaitkan dengan firman Allah (al-Isra’:18). Ayat ini menjelaskan bahwa keinginan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dunia hanya akan tercapai jika sesuai dengan kehendak Allah.
10- Hijrah adalah sebuah ibadah yang agung. Di dalam sejarah islam, ada beberapa macam hijrah yang terjadi. 1) hijrah dari negeri kacau menuju negeri aman, yaitu dari Mekkah ke habasyah. 2) hijrah dari negeri kufur ke negeri islam, dari Makkah ke Madinah. Dan di dalam hadis disebtkan macam hijrah ke-3, yaitu hijrah dengan meninggalkan yang dilarang oleh islam, sebagaimana sabda beliau
الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah
11- Peringatan dari fitnah wanita

Tambahan
1- Niat yang tidak karena Allah itu bertingkat-tingkat. Ada yang murni dan ada yang tidak.
a. Yang murni adalah melakukan perbuatan sama sekali bukan karena Allah. Contohnya orang amal kebaikan semata-mata karena rasa kemanusiaan. Amal semacam ini biasa dilakukan oleh kaum non-muslim. Meskipun tampak sebagai sebuah kebaikan, dalam kaca mata syara’ bukanlah kebaikan, dan kelak tidak ada balasan kebaikan dari Allah.
b. Amal bukan karena Allah yang bercampur dengan niat karena Allah. Contohnya; orang shalat, tetapi di balik shalatnya itu ingin dilihat oleh orang lain. Jika orang beramal sejak mula berniat ganda, seperti dalam contoh ini, maka Allah menolak amal yang diniatkan ganda itu. Tetapi jika awalnya ia ikhlas, lalu ditengah-tengah beramal munculah riya’, maka Allah menolak riya’nya itu. Dan jika kemudian, masih di tengah shalatnya ia sadar, bertaubat dan mengubah niatnya kepada niat yang ikhlas, amal tersebut tidak batal. Tetapi jika riya’ itu muncul di tengah shalat dan pelakunya tidak bertaubat, maka para ulama’ berbeda pendapat.
2- Penulis kitab ini meletakkan hadits tentang niat di awal kitab Thaharah, padahal tidak ada hubungan dengan thaharah, karena hadis ini memberikan rambu-rambu yang paling mendasar dalam setiap perbuatan manusia. Termasuk juga dalam thaharah. Thaharah akan bernilai jika dilandasi dengan niat ikhlas, yakni mengharap balasan dari Allah.

 diambil daripada: http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/27/hadis-tentang-ikhlas-dalam-beramal/

Monday, December 31, 2012

Siapakah kita? who ? HU

"Sukakah saya beritakan kepadamu, orang yang terBAIK di antara mu?"

" Baiklah ya TUAN"

" Ialah mereka yang bila diLIHAT, langsung teringat kepada Allaah"

                      ............................................................................................

" Sukakah saya beritakan kepadamu, orang yang amat jahat dan berbahaya diantara mu?"

" Ialah mereka yang selalu berusaha memfitnah, yang suka merosak diantara kawan sahabat, yang selalu mencari kejelekan dan kesalahan orang"

(Ahmad)

................................................................................................................................................................

.................................................................................................................................................................

"Sukakah saya beritakan kepada mu orang ahli syurga?

" Ialah setiap orang lunak, lemah lembut, merendahkan diri bila sewaktu bersumpah dengan nama Allah pasti di perkenankan!"

                            ...................................................................................

"Sukakah aku beritakan kepadamu ahli NERAKA?"

" Ialah tiap orang yang rakus, kikir, keras, kejam dan sombong"

(Bukhari dan Muslim)

................................................................................................................................................................

" Sesiapa yang mati sedang pada waktu hidupnya suka mengunjing memaki orang, mengejek, menghina nama orang, maka tandanya dihari kiamat, kelak akan diberi belalai pada kedua bibirnya"

(ibn Abi Hatim)

Wednesday, November 7, 2012

Jaga DIRI - PerentahNYA

Janganlah orang yang beriman mengambil orang kafir menjadi teman rapat dengan meninggalkan orang yang beriman. Dan sesiapa yang melakukan (larangan) yang demikian maka tiadalah ia (mendapat perlindungan) dari Allah dalam sesuatu apapun, kecuali kamu hendak menjaga diri daripada sesuatu bahaya yang ditakuti dari pihak mereka (yang kafir itu). Dan Allah perintahkan supaya kamu beringat-ingat terhadap kekuasaan diriNya (PentadbiranNYA). Dan kepada Allah jualah tempat kembali.
(A-li'Imraan 3:28)


Wahai Rasul Allah! Janganlah engkau menanggung dukacita disebabkan orang yang segera menceburkan diri dalam kekufuran, iaitu dari orang yang berkata dengan mulutnya: "Kami tetap beriman", padahal hatinya tidak beriman; demikian juga dari orang-orang Yahudi, mereka orang yang sangat suka mendengar berita-berita dusta; mereka sangat suka mendengar perkataan golongan lain (pendita-pendita Yahudi) yang tidak pernah datang menemuimu; mereka ini mengubah serta meminda perkataan-perkataan (dalam Kitab Taurat) itu dari tempat-tempatnya yang sebenar. Mereka berkata: "Jika disampaikan kepada kamu hukum seperti ini maka terimalah dia, dan jika tidak disampaikannya kepada kamu, maka jagalah diri baik-baik".

Dan sesiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka engkau tidak berkuasa sama sekali (menolak) sesuatu apapun (yang datang) dari Allah untuknya. Mereka ialah orang yang Allah tidak mahu membersihkan hati mereka; bagi mereka kehinaan di dunia, dan di akhirat kelak mereka beroleh azab seksa yang besar.
(Al-Maaidah 5:41)


Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah sahaja diri kamu (dari melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah). Orang-orang yang sesat tidak akan mendatangkan mudarat kepada kamu apabila kamu sendiri telah mendapat hidayah petunjuk (taat mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya). Kepada Allah jualah tempat kembali kamu semuanya, kemudian Ia akan menerangkan kepada kamu (balasan) apa yang kamu telah lakukan.
(Al-Maaidah 5:105


"Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan-keterangan (dalil-dalil dan bukti) dari Tuhan kamu; oleh itu sesiapa melihat (kebenaran itu serta menerimanya) maka faedahnya terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa buta (dan enggan menerimanya) maka bahayanya tertimpalah ke atas dirinya sendiri. Dan tiadalah aku berkewajipan menjaga dan mengawasi kamu".
(Al-An'aam 6:104)


Dan jagalah diri kamu daripada (berlakunya) dosa (yang membawa bala bencana) yang bukan sahaja akan menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu secara khusus (tetapi akan menimpa kamu secara umum). Dan ketahuilah bahawa Allah Maha berat azab seksaNya.
(Al-Anfaal 8:25)

Kesimpulannya

Jagalah diri kita ya, agar tidak jatuh dalam maksiat dan mungkar
Agar tidak jatuh dalam zalim dan menzalimi

berjayalah orang yang mahu berfikir dan ingat serta menjaga dirinya
 

Saturday, October 27, 2012

Bicara Keikhlasan

Bicara Keikhlasan

Imam Abu al-Qasim Al-Qusyairi, seorang ahli tasauf yang terkemuka memeberikan definisi Ikhlas sebagai:-
Ikhlas adalah mengesakan haq Allah swt dalam segala amalan ketaatan dengan niat, iaitu dia melakukan amalan ketaatannya hanyalah untuk menghampirkan diri kepada Allah swt, tiada apapun selain itu, (iaitu mereka yang melakukannya kerana Makhluk, atau kerana ingin mendapat pujian mereka, serta kecintaan kepada pujian makhluk, atau apa jua sebab-sebab yang selain redha Allah.) Boleh juga dikatakan, bahawa Ikhlas itu adalah pembersihan (niat) diri (semasa amalan) dari segala segala perhatian manusia. (Al-Risalah al-Qusyairiah, tahqiq Abd Halim Mahmud, 1/443)

Saya simpulkan, ikhlas adalah USAHA membersihkan HATI dari perhatian manusia baik sebelum, semasa atau sesudah sesuatu pekerjaan dilakukan. 

Ikhlas sama sekali bukan bererti MENINGGALKAN amalan kebaikan kerana manusia.

Contohnya, anda sedang membaca Al Quran, tiba tiba ada manusia datang. Anda kemudian memberhentikan bacaan Al Quran kerana manusia tersebut, maka itu tanda anda tidak ikhlas, anda berhenti melakukan kebaikan kerana manusia bukan kerana Allah. 

Al-Imam Fudail bin ‘Iyyad berkata
“Meninggalkan amal kerana manusia itu adalah riak. Beramal kerana manusia itu adalah syirik. Adapun ikhlas ialah Allah menyelamatkan kamu daripada keduanya.

Apa sepatutnya anda lakukan?
Teruskan membaca sambil BERUSAHA membina niat di dalam hati dengan mengatakan ‘Ya Allah  aku membaca Al Quran kerana Mu bukan kerana dia, jadi aku tak kisah apa pandangannya terhadap aku’.  Bina Ikhlas. Apabila anda terus membaca, maka anda akan terus memperoleh pahala. 

Rasulullah SAW bersabda
Sesiapa yang menunjukkan kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (Hadis riwayat Muslim)

Agenda syaitan adalah mengajak manusia meninggalkan ibadah. Sekiranya anda berhenti, maka anda telah memenuhi agenda syaitan.
Ya, begitu seharusnya. Anda malu?
Kalau anda malu, berpindahlah ke tempat lain, atau niatkan berhenti sebentar kerana meraikan kehadiran dia. Kemudian anda ambil peluang ‘bertaaruf’ sebagai langkah mula untuk berdakwah. Pahala anda bertambah bukan?
Tetapi kalau anda tiba tiba berhenti hanya kerana kehadiran dia, ternyata anda tidak ikhlas. Anda berhenti beribadah kerana manusia.
Begitulah dakwah. Anda beralasan untuk berhenti (keluar halaqah) kerana merasa tidak ikhlas. Anda merasakan bahawa amal yang anda buat dilihat oleh manusia . Lantas anda berhenti..Ya, anda mahu berhenti dari melakukan kebaikan
Berhentinya anda adalah kerana manusia bukan kerana Allah, kemudian anda ‘claim’ ia adalah usaha untuk mencari Ikhlas. Sungguh rancu pemahaman seperti ini.

Analogi lain,

Anda berada dalam sebuah bilik gelap, anda tidak tahu di mana letaknya suis untuk menghidupkan lampu. Kemudian ada seorang hamba Allah datang membantu. Dia hidupkan suis dan anda pun dapat melihat terang. Setelah sekian lama anda hidup dengan cahaya tersebut, kemudian anda LUPA DIRI!
Anda ingin memadamkan suis itu. Kononnya anda hendak mencari suis lain.
Anda lupa bahawa cahaya itu sangat terang. Didalamnya bersinar cahaya ‘pengorbanan’, didalamnya bersinar cahaya ‘keilmuan’, didalamnya bersinar cahaya ‘fikrah’, didalamnya bersinar cahaya ‘ukhwah’. Kemudian, anda ingin PADAMKAN semua, dan anda ingin mencari suis ‘keikhlasan’ sahaja. Sedangkan suis itu sudah ada, cuma anda yang tidak jumpa. Dimana letak pertimbangan rasional anda?

Sekarang saya sedar, ‘ikhlas’ juga boleh menjadi senjata utama syaitan menjerat Hamba yang Esa. Bagaimana anda?, adakah anda menyedarinya?

(cerita penuhnya di sana:  http://www.penamujahid.com/?p=666#)

Thursday, September 13, 2012

Tolong Menolong - Bertolong Tolongan

"Wahai orang yang beriman,
janganlah kamu ingat halal membuat sesuka hati mengenai syiar-syiar agama Allah,
dan mengenai bulan-bulan yang dihormati,
dan mengenai binatang-binatang yang dihadiahkan (ke Makkah untuk korban),
dan mengenai kalong-kalong binatang hadiah itu,
dan mengenai orang yang menuju ke Baitullah Al-Haraam,
yang bertujuan mencari limpah kurnia dari Tuhan mereka (dengan jalan perniagaan)
dan mencari keredaanNya (dengan mengerjakan ibadat Haji di Tanah Suci);

dan apabila kamu telah selesai dari ihram maka bolehlah kamu berburu.

Dan jangan sekali-kali kebencian kamu kepada suatu kaum kerana mereka pernah menghalangi kamu dari masjid Al-Haraam itu - mendorong kamu menceroboh.

Dan hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertaqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan pencerobohan. 

Dan bertaqwalah kepada Allah, kerana sesungguhnya Allah Maha Berat azab seksaNya (bagi sesiapa yang melanggar perintahNya)."
(Al-Maaidah 5:2)



Wahai sekalian orang yang beriman! 
Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; 
kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar
(Al-Baqarah 2:153)



"Dan (ketahuilah), seseorang pemikul tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain;

dan jika seseorang yang berat tanggungnya (dengan dosa), memanggil (orang lain) untuk menolong memikul sama bebanan itu, tidak akan dapat dipikul sedikitpun daripadanya, walaupun orang yang diminta pertolongannya itu dari kerabatnya sendiri. 

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) hanyalah memberi peringatan kepada orang yang takut (melanggar hukum-hukum) Tuhan semasa mereka tidak dilihat orang dan semasa mereka tidak melihat azab Tuhan, serta mereka mendirikan sembahyang.

Dan sesiapa yang membersihkan dirinya (dari segala yang dilarang) maka sesungguhnya ia melakukan pembersihan itu untuk kebaikan dirinya sendiri dan (ingatlah),
kepada Allah jualah tempat kembali."
(Faatir 35:18

Kejayaan hanya apabila dapat Taat Perentah Allah ikut cara Rasulullah SAW - demikianlah Ingatan darinya, sekiranya tidak mahu SESAT, dengar dan taatlah akan AlQuran dan sunnah.

Janganlah berangan angan kamu sudah membuat kebaikan menyediakan wadah bagi kebaikan masyarakat, sebaliknya kamu melarang pertolongan antara sesama. Ternyata jika demikian sikapmu, kamu sukakan bisikan SYAITON

dan kalian tidak bersalah kepada ku, Semoga kalian di letakkan di sisi Allaah. Subhan Allaah


Time will come, when..............

" Ini ialah hari memutuskan hukum untuk memberi balasan yang dahulu kamu mendustakannya ". (As-Saaffaat 37:21)


" Himpunkanlah orang-orang yang zalim itu, dan orang-orang yang berkeadaan seperti mereka, serta benda-benda yang mereka sembah - "Yang lain dari Allah serta hadapkanlah mereka ke jalan yang membawa ke neraka. "Dan hentikanlah mereka (menunggu), kerana sesungguhnya mereka akan disoal:" (As-Saaffaat 37:22-24)


"Mengapa kamu tidak bertolong-tolongan (sebagaimana yang kamu dakwakan dahulu?"
(As-Saaffaat 37:25)

subhanalah - ampunkanlah kami ya Allahu, berikan kami hidayahMu dan kemudahannya untuk melaksanakan perentahMU

subhanallah, wahdahu laa syarikalah
Allaahu akbar walillahilhamd

IKHLAS

al-Ikhlas.
kebalikannya adalah as-syirk. 

Makna ikhlas yaitu membersihkan segala bentuk amalan dari segala unsur syirik. 

Rasulullah saw bersabda:” Sesungguhnya Allah haramkan atas api neraka terhadap orang yang mengucapkan la ilaha illallah karena mengharapkan wajah Allah semata.”
(HR. Bukhari-Muslim).

Sekiranya tidak  mentauhidkan Allah sia sialah mengaku Ikhlas.

Sebab itulah Islam mementingkan keutamaan. Awwaludin Makrifatulloh. 
Sesiapa sahaja jika tidak dapat Ingat bahawa tidak bergerak sesuatu melainkan telah di IZIN kan Allaah belumlah sampai kepadanya Ikhlas

Mengapa sukar untuk Ikhlas 

1. Sebab tidak Ingat Allah. Apabila beroleh nikmat dalam kehidupan ini, kamu berbangga dan mengaku Atas Prestasi diriku lah aku mencapainya, maka apa lebihnya kamu, berbanding Qarun yang kunci hartanya sahaja di bebani oleh 3 unta. Akhirnya kerana sombongnya dia di telan BUMI

Insaflah hendaknya, bila mendapat Nikmat, ingatlah, alhamdulillah syukur ya Allah, Terima Kasih di atas hidayah dan pimpinan Mu, inshallah

2. Sebab tidak ada yang memberikan Peringatan. begitulah sedangkan Demi Masa, manusia di dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal soleh, menyampaikan kebenaran dan berpesan pesan dengan sabar. Deenun Nasihah. Jujur dan Suci lah hendaknya menyampaikan kebenaran

3. Pekerjaan dengan suasana yang tidak memberi Ingat akan Allaah
Silakan ya menempatkan diri ke dalam suasana yang Baik, semoga tidaklah kamu mencampakkan dirimu ke dalam kebinasaan. 

Silakan ya, atas usaha dan Ikhtiar dirimu, sejauhmana Kamu Dapat Berserah kepada Allaah dengan sebulat bulatnya . Inshallah

Teruskanlah mencari Ilmu Tauhid, Semoga dapat keyakinan, Semoga dapat mengetahui Cara untuk menambah baik diri - silakan ya IMD dapat membantu

subhanallah