Tafsir Surah Ali ‘Imran (102-103) : Taqwa yang Sebenar-benarnya
“Tidaklah seorang hamba dikatakan bertakwa kepada Allah hingga lidahnya bergetar.”
Ketaqwaan adalah keadaan yang harus
dimiliki oleh setiap orang yang beriman. Allah memerintahkan agar kaum
mukminin bertaqwa yang sebenar-benarnya dan senantiasa menjaga keimanan
hingga akhir hayat.
Allah juga memerintahkan agar mereka selalu
berpegang kepada tali Allah, tidak bercerai berai, dan selalu mengingat
nikmat yang Dia berikan kepada mereka.
Ayat 102 dan 103 surah Ali
‘Imran berikut ini berbicara tentang hal-hal tersebut, yang harus selalu
kita ingat dalam menjalani kehidupan ini. Marilah kita perhatikan
kedua ayat itu dan penafsirannya sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu
Katsir dalam tafsirnya.
Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah
sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan
berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah
kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian
ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah
mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian, karena nikmat
Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi
jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah
Allah menerangkan kepada kalian ayat-ayat-Nya, agar kalian mendapat
petunjuk.
Mengenai firman Allah yang artinya “Bertaqwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar taqwa kepada-Nya”, Abdullah bin Mas`ud berkata,
“Maksudnya adalah hendaknya Allah itu ditaati dan jangan didurhakai,
diingat dan jangan dilupakan, serta disyukuri dan jangan dikufuri.”
Diriwayatkan dari Anas bahwa ia mengatakan, “Tidaklah seorang hamba
dikatakan bertakwa kepada Allah hingga lidahnya bergetar.”
Sa‘id bin Jubair dan yang lainnya berpendapat bahwa ayat ini telah
dinasakh oleh firman Allah, yang artinya, “Maka bertaqwalah kepada Allah
menurut kepamampuan kalian.” Namun Ibnu Abas mengatakan bahwa ayat 102
ini tidak dinasakh, dan yang dimaksud dengan taqwa yang
sebenar-benarnya kepada-Nya ialah: hendaknya kalian berjihad di jalan
Allah dengan sungguh-sungguh, jangan sampai celaan orang menyurutkan
langkah kalian dalam berjuang di jalan Allah, dan berlaku adillah
walaupun terhadap diri kalian sendiri, orangtua kalian, dan anak-anak
kalian.
Firman Allah SWT, yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kalian
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” yakni peliharalah Islam
sepanjang waktu, supaya kalian mati dalam keadaan Islam.
Dan di antara
sunnah Allah adalah barang siapa hidup dalam sesuatu, ia akan mati
dalam sesuatu itu, dan barang siapa mati dalam sesuatu, ia akan
dibangkitkan dalam sesuatu itu.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah
SAW bersabda, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati
melainkan dalam keadaan beragama Islam. Seandainya setetes zaqum
(makanan untuk orang-orang di neraka) menetes ke dunia, niscaya ia dapat
merusak kehidupan penduduk bumi ini. Lalu, bagaimana jadinya dengan
orang yang tidak memiliki makanan kecuali zaqum?
Imam Ahmad meriwayatkan dari dari Abdullah bin Umar, ia berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan
dimasukkan ke dalam surga, hendaklah ia mati dalam keadaan beriman
kepada Allah dan hari akhir serta mendatangkan kepada manusia sesuatu
yang ia sendiri ingin didatangkan seperti itu.”
Mengenai firman Allah yang artinya “Dan berpegang teguhlah kalian
semua kepada tali Allah”, ada yang mengatakan bahwa tali Allah berarti
janji kepada Allah, sebagaimana dikatakan dalam ayat sesudahnya, yang
artinya, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali
jika mereka berpegang pada janji dengan Allah dan janji dengan manusia.”
(QS Ali Imran: 112).
Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud
dengan tali Allah ialah Al-Qur’an, sebagaimana dikatakan dalam hadits
Al-Harits Al-A`war dari Ali mengenai gambaran tentang Al-Qur’an,
“Al-Qur’an merupakan tali Allah yang kuat dan jalan-Nya yang lurus.”
Kemudian Allah berfirman, yang artinya, “Dan janganlah kalian bercerai berai.” Allah
menyuruh kita bersatu dan melarang kita bercerai berai.
Banyak
hadits yang menyebutkan hal itu, seperti hadits yang terdapat dalam Shahih Muslim
yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah meridhai dari kalian tiga perkara dan membenci dari
kalian tiga perkara pula. Dia ridha kepada kalian jika kalian
menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, kalian
semua berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-berai, dan
kalian setia kepada orang yang telah diserahi urusan kalian oleh Allah.
Dan Allah murka kepada kalian karena tiga hal: banyak berbicara (banyak
mengatakan bahwa orang berbicara begini dan begini), banyak bertanya
(yang tidak perlu), dan menyia-nyiakan harta.”
Firman Allah yang artinya “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada
kalian ketika kalian bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan kalian,
lalu menjadikan kalian, karena nikmat Allah, orang yang
bersaudara”, ayat ini berkaitan dengan kaum Aus dan Khazraj. Pada masa
Jahiliyah, terjadi perang yang panjang di antara mereka. Setelah mereka
masuk Islam, mereka menjadi bersaudara dan saling mencintai, berkat
keagungan Allah.
Mereka bersatu di jalan-Nya dan tolong-menolong dalam
kebajikan dan taqwa.
semoga kita mendapat pelajarannya
buktinya kelihatan dalam tata kelakuan kita, dalam tindak tanduk kita, inshaAllah
image
Thursday, April 17, 2014
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 111-114
Ayat ke 111 Artinya:
Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Sebelumnya telah disebutkan bahwa akar kekufuran sebagian besar umat manusia adalah sikap keras kepala. Mereka tidak mau mengindahkan nasihat tentang kebenaran, padahal mereka tidak memahami kebenaran itu.
Pada ayat ini juga disebutkan bahwa salah satu permintaan orang Kafir ialah turunnya para malaikat di tengah-tengah mereka, sedangkan mereka tidak memiliki kemampuan untuk melihat malaikat. Selain itu, sesuai dengan ayat-ayat yang lainnya, apabila itu terjadi, mereka dipastikan akan tetap kufur. Sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat, pada sebagian manusia, malaikat itu dapat nampak dengan jelas, sebagaimana malaikat itu nampak dengan jelas pada bentuknya terhadap Nabi Ibrahim dan Nabi Luth a.s.
Permintaan mereka yang lainnya ialah agar Nabi Muhammad menghidupkan kembali orang yang sudah mati sebagaimana mukjizat Nabi Isa as. Namun apakah semua orang yang melihat mukjizat Nabi Isa as itu kemudian beriman? Al-Quran mengatakan,selama sikap keras kepala masih mendominasi hati mereka, meski para malaikat itu turun dari langit, atau orang yang sudah mati itu bangun dari kuburnya untuk kemudian berbicara kepada mereka, ataupun setiap yang menjadi keinginan mereka dipenuhi, mereka tetap tidak akan beriman. Bahkan mereka akan menyebutnya sebagai sihir, karena hal semacam ini sudah terjadi pada para Nabi sebelumnya.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Untuk memperoleh iman, tidak cukup dengan bekal ilmu pengetahuan, tetapi juga harus dengan keinginan yang ikhlas dan sungguh-sungguh.
2. Tidak ada ketentuan dari Allah bahwa semua umat manusia harus beriman. Karena Allah Swt menginginkan agar manusia bebas memilih menurut keinginannya.
Ayat ke 112 Artinya:
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
Ayat ini mengatakan bahwa sekelompok manusia dan jin tidak mau menerima ajaran-ajaran para nabi utusan Allah. Mereka tetap pada sikapnya yang keras kepala dalam menghadapi ajaran lurus dan kebenaran dan hal ini justru menunjukkan adanya sunnatullah berupa ikhtiar yang dimiliki manusia dalam menentukan pilihan.
Sebagaimana telah ditetapkan oleh Allah, syaitan itu dari bangsa jin, dan karena disebabkan ketidakpatuhannya terhadap perintah Allah, maka mereka tidak dihancurkan, tetapi mereka diberi batas waktu. Allah Swt memberi hak kepada semua manusia yang tidak menerima wahyu. Mereka diberi kesempatan waktu hingga akhir umurnya, apakah akan beriman atau tetap kufur.
Sunnatullah ini sedemikian rupa terus berkesinambungan, sehingga dapat dikatakan bahwa Allah Swt berkeinginan agar syaitan senantiasa berhadapan dengan para nabi. Begitu juga sudah menjadi ketentuan-Nya bahwa sekelompok orang tetap dalam kekufurannya. Lanjutan ayat itu menyebutkan bahwa sebagian besar orang kafir itu mengatakan,bisikan-bisikan syaitan telah menyusup ke dalam hati manusia dan terus menyampaikan kata-kata. Karena itu wahai Nabi Allah, penentangan mereka jangan menjadikan kalian cemas dan pesimis. Biarkan mereka dalam kondisinya, karena tugasmu hanya membimbing dan menyampaikan saja dan bukan memaksa mereka supaya mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1.Perjuangan antara kebenaran dan kebatilan senantiasa ada di sepanjang sejarah. Ia tidak terbatas pada suatu periode saja.
2. Kita harus berhati-hati terhadap kata-kata dan pernyataan manis.Karena propaganda dan ajakan batil itu kadang-kadang berbentuk semacam ini.
Ayat ke 113 Artinya:
Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.
Ayat ini telah menyinggung berbagai propaganda mereka yang memusuhi kebenaran dengan mengatakan, orang-orang yang berhati kotor tidak mau mendengarkan kata-kata dan pernyataan setiap orang, kecuali kata-kata manis yang diucapkan syaitan. Ungkapan yang akan menjerumuskan setiap orang yang meragukan Hari Kiamat. Pada awalnya mereka tertarik oleh pernyataan dan kata-kata manis syaitan, lalu sedikit-demi sedikit, menerima pernyataan itu. Dalam ayat itu juga disebutkan bahwa sedikit pengikut yang mau mendengarkan kata-kata syaitan itu sudah sangat cukup. Kepada mereka yang mau mendengarkan itulah, para pengikut syaitan itu menancapkan pengaruhnya.
Ayat ke 114 Artinya:
Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.
Ayat ini berbicara mengenai Ahlul Kitab yaitu Yahudi dan Kristen dengan mengatakan, mereka yang sempat melihat Nabi Muhammad Saw dan bahkan mendengarkan pernyataan beliau itu sebenarnya telah mengetahui bahwa pernyataan beliau sesuai dengan pernyataan Nabi Musa dan Nabi Isa as.
Tidak hanya itu karena kitab suci beliau juga sama dengan kitab Taurat dan Injil. Sekalipun demikian mereka tetap tidak mau beriman kepada Rasulullah Saw dan kitabnya. Adapun sebagian dari permintaan mereka mengenai ditunjukkannya mukjizat merupakan suatu alasan yang sama persis terhadap mukjizat Nabi Musa dan Isa as. Karena itu kelanjutan ayat ini memberikan peringatan kepada kaum Muslimin agar dalam menetapkan kebenaran jalan ini janganlah ragu-ragu dan bimbang samasekali.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu dalil mengenai kebenaran Islam ialah berita gembira dari para nabi sebelumnya yang tertera dalam kitab Taurat dan Injil.
2. Kekufuran orang lain bukan merupakan dalil batilnya jalan kebenaran. Penerimaan atau penolakan seseorang tidak bisa menjadi tolok ukur kebenaran dan kebatilan. Karena tolok ukur hak dan batil itu sendiri bersifat independen yang dapat diterima oleh akal sehat.
InshaAllah ya
Ambillah Pelajaran, Islam untuk semua,
SubhanAllah wahdahu laasyarikalah
Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Sebelumnya telah disebutkan bahwa akar kekufuran sebagian besar umat manusia adalah sikap keras kepala. Mereka tidak mau mengindahkan nasihat tentang kebenaran, padahal mereka tidak memahami kebenaran itu.
Pada ayat ini juga disebutkan bahwa salah satu permintaan orang Kafir ialah turunnya para malaikat di tengah-tengah mereka, sedangkan mereka tidak memiliki kemampuan untuk melihat malaikat. Selain itu, sesuai dengan ayat-ayat yang lainnya, apabila itu terjadi, mereka dipastikan akan tetap kufur. Sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat, pada sebagian manusia, malaikat itu dapat nampak dengan jelas, sebagaimana malaikat itu nampak dengan jelas pada bentuknya terhadap Nabi Ibrahim dan Nabi Luth a.s.
Permintaan mereka yang lainnya ialah agar Nabi Muhammad menghidupkan kembali orang yang sudah mati sebagaimana mukjizat Nabi Isa as. Namun apakah semua orang yang melihat mukjizat Nabi Isa as itu kemudian beriman? Al-Quran mengatakan,selama sikap keras kepala masih mendominasi hati mereka, meski para malaikat itu turun dari langit, atau orang yang sudah mati itu bangun dari kuburnya untuk kemudian berbicara kepada mereka, ataupun setiap yang menjadi keinginan mereka dipenuhi, mereka tetap tidak akan beriman. Bahkan mereka akan menyebutnya sebagai sihir, karena hal semacam ini sudah terjadi pada para Nabi sebelumnya.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Untuk memperoleh iman, tidak cukup dengan bekal ilmu pengetahuan, tetapi juga harus dengan keinginan yang ikhlas dan sungguh-sungguh.
2. Tidak ada ketentuan dari Allah bahwa semua umat manusia harus beriman. Karena Allah Swt menginginkan agar manusia bebas memilih menurut keinginannya.
Ayat ke 112 Artinya:
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
Ayat ini mengatakan bahwa sekelompok manusia dan jin tidak mau menerima ajaran-ajaran para nabi utusan Allah. Mereka tetap pada sikapnya yang keras kepala dalam menghadapi ajaran lurus dan kebenaran dan hal ini justru menunjukkan adanya sunnatullah berupa ikhtiar yang dimiliki manusia dalam menentukan pilihan.
Sebagaimana telah ditetapkan oleh Allah, syaitan itu dari bangsa jin, dan karena disebabkan ketidakpatuhannya terhadap perintah Allah, maka mereka tidak dihancurkan, tetapi mereka diberi batas waktu. Allah Swt memberi hak kepada semua manusia yang tidak menerima wahyu. Mereka diberi kesempatan waktu hingga akhir umurnya, apakah akan beriman atau tetap kufur.
Sunnatullah ini sedemikian rupa terus berkesinambungan, sehingga dapat dikatakan bahwa Allah Swt berkeinginan agar syaitan senantiasa berhadapan dengan para nabi. Begitu juga sudah menjadi ketentuan-Nya bahwa sekelompok orang tetap dalam kekufurannya. Lanjutan ayat itu menyebutkan bahwa sebagian besar orang kafir itu mengatakan,bisikan-bisikan syaitan telah menyusup ke dalam hati manusia dan terus menyampaikan kata-kata. Karena itu wahai Nabi Allah, penentangan mereka jangan menjadikan kalian cemas dan pesimis. Biarkan mereka dalam kondisinya, karena tugasmu hanya membimbing dan menyampaikan saja dan bukan memaksa mereka supaya mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1.Perjuangan antara kebenaran dan kebatilan senantiasa ada di sepanjang sejarah. Ia tidak terbatas pada suatu periode saja.
2. Kita harus berhati-hati terhadap kata-kata dan pernyataan manis.Karena propaganda dan ajakan batil itu kadang-kadang berbentuk semacam ini.
Ayat ke 113 Artinya:
Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.
Ayat ini telah menyinggung berbagai propaganda mereka yang memusuhi kebenaran dengan mengatakan, orang-orang yang berhati kotor tidak mau mendengarkan kata-kata dan pernyataan setiap orang, kecuali kata-kata manis yang diucapkan syaitan. Ungkapan yang akan menjerumuskan setiap orang yang meragukan Hari Kiamat. Pada awalnya mereka tertarik oleh pernyataan dan kata-kata manis syaitan, lalu sedikit-demi sedikit, menerima pernyataan itu. Dalam ayat itu juga disebutkan bahwa sedikit pengikut yang mau mendengarkan kata-kata syaitan itu sudah sangat cukup. Kepada mereka yang mau mendengarkan itulah, para pengikut syaitan itu menancapkan pengaruhnya.
Ayat ke 114 Artinya:
Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.
Ayat ini berbicara mengenai Ahlul Kitab yaitu Yahudi dan Kristen dengan mengatakan, mereka yang sempat melihat Nabi Muhammad Saw dan bahkan mendengarkan pernyataan beliau itu sebenarnya telah mengetahui bahwa pernyataan beliau sesuai dengan pernyataan Nabi Musa dan Nabi Isa as.
Tidak hanya itu karena kitab suci beliau juga sama dengan kitab Taurat dan Injil. Sekalipun demikian mereka tetap tidak mau beriman kepada Rasulullah Saw dan kitabnya. Adapun sebagian dari permintaan mereka mengenai ditunjukkannya mukjizat merupakan suatu alasan yang sama persis terhadap mukjizat Nabi Musa dan Isa as. Karena itu kelanjutan ayat ini memberikan peringatan kepada kaum Muslimin agar dalam menetapkan kebenaran jalan ini janganlah ragu-ragu dan bimbang samasekali.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu dalil mengenai kebenaran Islam ialah berita gembira dari para nabi sebelumnya yang tertera dalam kitab Taurat dan Injil.
2. Kekufuran orang lain bukan merupakan dalil batilnya jalan kebenaran. Penerimaan atau penolakan seseorang tidak bisa menjadi tolok ukur kebenaran dan kebatilan. Karena tolok ukur hak dan batil itu sendiri bersifat independen yang dapat diterima oleh akal sehat.
InshaAllah ya
Ambillah Pelajaran, Islam untuk semua,
SubhanAllah wahdahu laasyarikalah
Tuesday, March 25, 2014
Ta’riful Qur’an
Ta’riful Qur’an
Menurut bahasa, “Qur’an” berarti “bacaan”, pengertian seperti ini dikemukakan dalam Al-Qur’an sendiri yakni dalam surat Al-Qiyamah, ayat 17-18:
“Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami. (Karena itu), jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya”.
Adapun menurut istilah Al-Qur’an berarti: “Kalam Allah yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad, yang disampaikan secara mutawatir dan membacanya adalah ibadah”.
Kalamullah
Al-Qur’an adalah kalamullah, firman Allah ta’ala. Ia bukanlah kata-kata manusia. Bukan pula kata-kata jin, syaithan atau malaikat. Ia sama sekali bukan berasal dari pikiran makhluk, bukan syair, bukan sihir, bukan pula produk kontemplasi atau hasil pemikiran filsafat manusia. Hal ini ditegaskan oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an surat An-Najm ayat 3-4:
“…dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)…”
Tentang kesucian dan keunikan Al-Qur’an ini perhatikanlah kesaksian objektif Abul Walid[1] seorang jawara sastra pada masa Nabi saw: “Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu. Itu bukanlah syair, bukan sihir dan bukan pula kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya Al-Qur’an itu ibarat pohon yang daunnya rindang, akarnya terhujam ke dalam tanah. Susunan kata-katanya manis dan enak didengar. Itu bukanlah kata-kata manusia, ia tinggi dan tak ada yang dapat mengatasinya.” Demikian pernyataan Abul Walid.
Mu’jizat
Mu’jizat artinya suatu perkara yang luar biasa, yang tidak akan mampu manusia membuatnya karena hal itu di luar kesanggupannya. Mu’jizat itu dianugerahkan kepada para nabi dan rasul dengan maksud menguatkan kenabian dan kerasulannya, serta menjadi bukti bahwa agama yang dibawa oleh mereka benar-benar dari Allah ta’ala.
Al-Qur’an adalah mu’jizat terbesar Nabi Muhammad saw. Pewarisnya yang mengikut Acuan AlQuran tentulah berjaya di dunia sampai ke Akhirat
Al-Munazzalu ‘ala qalbi Muhammad saw
Al-Qur’an itu diturunkan khusus kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad saw—seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa—tidak bisa dinamakan dan disebut sebagai Al-Qur’an. Demikian pula hadits qudsi[4] tidak bisa disamakan dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an diturunkan Allah ta’ala kepada Nabi Muhammad saw dengan berbagai cara[5]:
Al-Qur’an ditulis dalam mushaf-mushaf dan disampaikan kepada kita secara mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang), sehingga terpelihara keasliannya. Berikut sekilas sejarah pemeliharaan Al-Qur’an sejak masa Nabi hingga pembukuannya seperti sekarang:
Pada masa Nabi Al-Qur’an dihafal dan ditulis di atas batu, kulit binatang, pelapah tamar dan apa saja yang bisa dipakai untuk ditulis. Kemudian setahun sekali Jibril melakukan repetisi (ulangan), yakni dengan menyuruh Nabi memperdengarkan Al-Qur’an yang telah diterimanya. Menurut riwayat, di tahun beliau wafat, ulangan diadakan oleh Jibril dua kali.
Ketika Nabi wafat, Al-Qur’an telah dihafal oleh ribuan manusia dan telah ditulis semua ayat-ayatnya dengan susunan menurut tertib urut yang ditunjukkan oleh Nabi sendiri.
Berdasarkan usulan Umar bin Khattab, pada masa pemerintahan Abu Bakar diadakan proyek pengumpulan Al-Qur’an. Hal ini dilatar belakangi oleh peristiwa gugurnya 70 orang penghafal Al-Qur’an dalam perang Yamamah. Maka ditugaskanlah Zaid bin Tsabit untuk melakukan pekerjaan tersebut. Ia kemudian mengumpulkan tulisan Al-Qur’an dari daun, pelapah kurma, batu, tanah keras, tulang unta atau kambing dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur’an.
Dalam upaya pengumpulan Al-Qur’an ini, Zaid bin Tsabit bekerja sangat teliti. Sekalipun beliau hafal Al-Qur’an seluruhnya, tetapi masih memandang perlu mencocokkan hafalannya dengan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan dua orang saksi. Selanjutnya, Al-Qur’an ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran yang diikatnya dengan benang, tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan Rasulullah saw.
Pada masa Utsman terjadi ikhtilaf tentang mushaf Al-Qur’an, yakni berkaitan dengan ejaan, qiraat dan tertib susunan surat-surat. Oleh karena itu atas usulan Huzaifah bin Yaman, Utsman segera membentuk panitia khusus yang dipimpin Zaid bin Tsabit beranggotakan Abdullah bin Zubair, Saad bin Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk melakukan penyeragaman dengan merujuk kepada lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ditulis pada masa khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh Hafsah, isteri Nabi saw.
Al-Qur’an yang dibukukan oleh panitia ini kemudian dinamai “Al-Mushaf” dan dibuat lima rangkap. Satu buah disimpan di Madinah—dinamai “Mushaf Al-Imam”—dan sisanya dikirim ke Mekkah, Syiria, Basrah dan Kufah. Sementara itu lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ditulis sebelum proyek ini segera dimusnahkan guna menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf, satu bacaan[6], dan satu tertib susunan surat-surat.
Al-Muta’abbadu bitilawatih
Membaca Al-Qur’an itu bernilai ibadah. Banyak sekali hadits yang mengungkapkan bahwa membaca Al-Qur’an adalah merupakan bentuk ibadah kepada Allah yang memiliki banyak keutamaan, diantaranya adalah:
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah akan memberi pahala kepadamu karena bacaan itu untuk setiap hurufnya 10 kebajikan. Saya tidak mengatakan kepada kalian bahwa ‘Alif-Laam-Mim’ itu satu huruf, tetapi ‘alif’ satu huruf, ‘Laam’ satu huruf dan ‘Miim’ satu huruf” (HR. Hakim).
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi cahaya bagimu di bumi dan menjadi simpanan (deposito amal) di langit.” (HR. Ibnu Hibban).
“Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan barangsiapa membaca Al-Qur’an, sementara ada kesulitan (dalam membacanya), maka baginya dua pahala. “ (HR. Bukhari & Muslim)
[1] Abul Walid adalah seorang sastrawan Arab yang jarang bandingannya. Suatu saat ia diperintahkan para pemimpin Quraisy untuk menghadap Nabi Muhammad saw dengan maksud membujuk beliau supaya meninggalkan dakwah Islam dengan janji bahwa beliau akan diberi pangkat, harta dan sebagainya. Abul Walid menyampaikan bujukannya ini dan membacakan syair-syair. Tapi kemudian Nabi Muhammad saw membacakan surat Fushilat dari awal sampai akhir. Abul Walid pun tertarik dan terpesona mendengarkan ayat itu sehingga ia termenung memikirkan keindahan gaya bahasanya. Ia kemudian datang kepada para pemimpin Quraisy dan mengatakan kata-kata di atas. [2] Pokok-pokok Ajaran Islam, DR. Miftah Faridl, Pustaka Bandung hal. 9.
[3] Di antara ayat-ayat tersebut umpamanya QS. 39: 6, 6: 125, 23: 12-14, 51: 49, 41: 11: 41, 21: 30-33, 51:7, 49 dan lain-lain
[4] Menurut para ulama hadits qudsi ialah: “Sesuatu yang diberitakan Allah kepada Nabi saw dengan perantaraan Jibril, atau dengan jalan ilham atau mimpi waktu tidur, lalu oleh beliau disampaikan kepada ummat dengan lafadz dan ucapan beliau sendiri, berdasarkan taufiq dari Allah ta’ala. Apabila Rasulullah saw meriwayatkan hadits qudsi, biasanya mengucapkan “Qaala-Llahu ta’aala” (Allah berfirman…), tapi firman itu tidak dimasukkan dalam Al-Qur’an. Begitu juga uslub-nya (susunan kata) tidak sama dengan uslub ayat-ayat Al-Qur’an.
[5] Lihat Kelengkapan Tarikh Muhammad (Gema Insani Press) hal. 142-143.
[6] Bacaan (qiraat) yang dikenal oleh masyarakat muslim saat ini bermacam-macam, tetapi bacaan yang berbeda-beda itu tidak berlawanan dengan ejaan mushaf-mushaf Utsman.http://harakatuna.wordpress.com/2008/09/17/definisi-al-quran/
Menurut bahasa, “Qur’an” berarti “bacaan”, pengertian seperti ini dikemukakan dalam Al-Qur’an sendiri yakni dalam surat Al-Qiyamah, ayat 17-18:
“Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami. (Karena itu), jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya”.
Adapun menurut istilah Al-Qur’an berarti: “Kalam Allah yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad, yang disampaikan secara mutawatir dan membacanya adalah ibadah”.
Kalamullah
Al-Qur’an adalah kalamullah, firman Allah ta’ala. Ia bukanlah kata-kata manusia. Bukan pula kata-kata jin, syaithan atau malaikat. Ia sama sekali bukan berasal dari pikiran makhluk, bukan syair, bukan sihir, bukan pula produk kontemplasi atau hasil pemikiran filsafat manusia. Hal ini ditegaskan oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an surat An-Najm ayat 3-4:
“…dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)…”
Tentang kesucian dan keunikan Al-Qur’an ini perhatikanlah kesaksian objektif Abul Walid[1] seorang jawara sastra pada masa Nabi saw: “Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu. Itu bukanlah syair, bukan sihir dan bukan pula kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya Al-Qur’an itu ibarat pohon yang daunnya rindang, akarnya terhujam ke dalam tanah. Susunan kata-katanya manis dan enak didengar. Itu bukanlah kata-kata manusia, ia tinggi dan tak ada yang dapat mengatasinya.” Demikian pernyataan Abul Walid.
Mu’jizat
Mu’jizat artinya suatu perkara yang luar biasa, yang tidak akan mampu manusia membuatnya karena hal itu di luar kesanggupannya. Mu’jizat itu dianugerahkan kepada para nabi dan rasul dengan maksud menguatkan kenabian dan kerasulannya, serta menjadi bukti bahwa agama yang dibawa oleh mereka benar-benar dari Allah ta’ala.
Al-Qur’an adalah mu’jizat terbesar Nabi Muhammad saw. Pewarisnya yang mengikut Acuan AlQuran tentulah berjaya di dunia sampai ke Akhirat
Al-Munazzalu ‘ala qalbi Muhammad saw
Al-Qur’an itu diturunkan khusus kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad saw—seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa—tidak bisa dinamakan dan disebut sebagai Al-Qur’an. Demikian pula hadits qudsi[4] tidak bisa disamakan dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an diturunkan Allah ta’ala kepada Nabi Muhammad saw dengan berbagai cara[5]:
- Berupa impian yang baik waktu beliau tidur.Kadang-kadang wahyu itu dibawa oleh malaikat Jibril dengan menyerupai bentuk manusia laki-laki, lalu menyampaikan perkataan (firman Allah) kepada beliau.
- Kadang-kadang malaikat pembawa wahyu itu menampakkan dirinya dalam bentuk yang asli (bentuk malaikat), lalu mewahyukan firman Allah kepada beliau.
- Kadang-kadang wahyu itu merupakan bunyi genta. Inilah cara yang paling berat dirasakan beliau.
- Kadang-kadang wahyu itu datang tidak dengan perantaraan malaikat, melainkan diterima langsung dari Hadirat Allah sendiri.
- Sekali wahyu itu beliau terima di atas langit yang ketujuh langsung dari Hadirat Allah sendiri.
Al-Qur’an ditulis dalam mushaf-mushaf dan disampaikan kepada kita secara mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang), sehingga terpelihara keasliannya. Berikut sekilas sejarah pemeliharaan Al-Qur’an sejak masa Nabi hingga pembukuannya seperti sekarang:
Pada masa Nabi Al-Qur’an dihafal dan ditulis di atas batu, kulit binatang, pelapah tamar dan apa saja yang bisa dipakai untuk ditulis. Kemudian setahun sekali Jibril melakukan repetisi (ulangan), yakni dengan menyuruh Nabi memperdengarkan Al-Qur’an yang telah diterimanya. Menurut riwayat, di tahun beliau wafat, ulangan diadakan oleh Jibril dua kali.
Ketika Nabi wafat, Al-Qur’an telah dihafal oleh ribuan manusia dan telah ditulis semua ayat-ayatnya dengan susunan menurut tertib urut yang ditunjukkan oleh Nabi sendiri.
Berdasarkan usulan Umar bin Khattab, pada masa pemerintahan Abu Bakar diadakan proyek pengumpulan Al-Qur’an. Hal ini dilatar belakangi oleh peristiwa gugurnya 70 orang penghafal Al-Qur’an dalam perang Yamamah. Maka ditugaskanlah Zaid bin Tsabit untuk melakukan pekerjaan tersebut. Ia kemudian mengumpulkan tulisan Al-Qur’an dari daun, pelapah kurma, batu, tanah keras, tulang unta atau kambing dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur’an.
Dalam upaya pengumpulan Al-Qur’an ini, Zaid bin Tsabit bekerja sangat teliti. Sekalipun beliau hafal Al-Qur’an seluruhnya, tetapi masih memandang perlu mencocokkan hafalannya dengan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan dua orang saksi. Selanjutnya, Al-Qur’an ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran yang diikatnya dengan benang, tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan Rasulullah saw.
Pada masa Utsman terjadi ikhtilaf tentang mushaf Al-Qur’an, yakni berkaitan dengan ejaan, qiraat dan tertib susunan surat-surat. Oleh karena itu atas usulan Huzaifah bin Yaman, Utsman segera membentuk panitia khusus yang dipimpin Zaid bin Tsabit beranggotakan Abdullah bin Zubair, Saad bin Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk melakukan penyeragaman dengan merujuk kepada lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ditulis pada masa khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh Hafsah, isteri Nabi saw.
Al-Qur’an yang dibukukan oleh panitia ini kemudian dinamai “Al-Mushaf” dan dibuat lima rangkap. Satu buah disimpan di Madinah—dinamai “Mushaf Al-Imam”—dan sisanya dikirim ke Mekkah, Syiria, Basrah dan Kufah. Sementara itu lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ditulis sebelum proyek ini segera dimusnahkan guna menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf, satu bacaan[6], dan satu tertib susunan surat-surat.
Al-Muta’abbadu bitilawatih
Membaca Al-Qur’an itu bernilai ibadah. Banyak sekali hadits yang mengungkapkan bahwa membaca Al-Qur’an adalah merupakan bentuk ibadah kepada Allah yang memiliki banyak keutamaan, diantaranya adalah:
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah akan memberi pahala kepadamu karena bacaan itu untuk setiap hurufnya 10 kebajikan. Saya tidak mengatakan kepada kalian bahwa ‘Alif-Laam-Mim’ itu satu huruf, tetapi ‘alif’ satu huruf, ‘Laam’ satu huruf dan ‘Miim’ satu huruf” (HR. Hakim).
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi cahaya bagimu di bumi dan menjadi simpanan (deposito amal) di langit.” (HR. Ibnu Hibban).
“Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan barangsiapa membaca Al-Qur’an, sementara ada kesulitan (dalam membacanya), maka baginya dua pahala. “ (HR. Bukhari & Muslim)
***
[1] Abul Walid adalah seorang sastrawan Arab yang jarang bandingannya. Suatu saat ia diperintahkan para pemimpin Quraisy untuk menghadap Nabi Muhammad saw dengan maksud membujuk beliau supaya meninggalkan dakwah Islam dengan janji bahwa beliau akan diberi pangkat, harta dan sebagainya. Abul Walid menyampaikan bujukannya ini dan membacakan syair-syair. Tapi kemudian Nabi Muhammad saw membacakan surat Fushilat dari awal sampai akhir. Abul Walid pun tertarik dan terpesona mendengarkan ayat itu sehingga ia termenung memikirkan keindahan gaya bahasanya. Ia kemudian datang kepada para pemimpin Quraisy dan mengatakan kata-kata di atas. [2] Pokok-pokok Ajaran Islam, DR. Miftah Faridl, Pustaka Bandung hal. 9.
[3] Di antara ayat-ayat tersebut umpamanya QS. 39: 6, 6: 125, 23: 12-14, 51: 49, 41: 11: 41, 21: 30-33, 51:7, 49 dan lain-lain
[4] Menurut para ulama hadits qudsi ialah: “Sesuatu yang diberitakan Allah kepada Nabi saw dengan perantaraan Jibril, atau dengan jalan ilham atau mimpi waktu tidur, lalu oleh beliau disampaikan kepada ummat dengan lafadz dan ucapan beliau sendiri, berdasarkan taufiq dari Allah ta’ala. Apabila Rasulullah saw meriwayatkan hadits qudsi, biasanya mengucapkan “Qaala-Llahu ta’aala” (Allah berfirman…), tapi firman itu tidak dimasukkan dalam Al-Qur’an. Begitu juga uslub-nya (susunan kata) tidak sama dengan uslub ayat-ayat Al-Qur’an.
[5] Lihat Kelengkapan Tarikh Muhammad (Gema Insani Press) hal. 142-143.
[6] Bacaan (qiraat) yang dikenal oleh masyarakat muslim saat ini bermacam-macam, tetapi bacaan yang berbeda-beda itu tidak berlawanan dengan ejaan mushaf-mushaf Utsman.http://harakatuna.wordpress.com/2008/09/17/definisi-al-quran/
Monday, March 24, 2014
Ciri Ciri Mu'jizat
Seringkali di katakan ini adalah nama nama lain bagi AlQuran
Namun saya mengajak kalian berfikir, bagaimana jika kita katakan, Ianya adalah ciri ciri mu'jizat
Ciri-Ciri nya ialah:Subhanallah wahdahulasyarikalah
Fungsi dan kedudukan Al-Qur'an
Fungsi utama dari al-Qur'an adalah sebagai petunjuk dan sumber hidayah Selain itu Al-Qur'an memiliki fungsi lainnya, antara lain:
Ciri Ciri Tersebut yang berkenaan akan memberikan, kemudahan dan keselamatan kepada yang menuntut Ilmunya dan mengambil pelajarannya. Semoga Tulus hati kita, mendapatkan Hidayahnya
Thursday, March 20, 2014
Mu'jizat Dalam Tangan mu
Mu’jizat
Mu’jizat artinya suatu perkara yang luar biasa, Mu’jizat itu dianugerahkan kepada para nabi dan rasul dengan maksud mengukuhkan kenabian dan kerasulannya, serta menjadi bukti bahwa agama yang dibawa oleh mereka adalah Islam daripada Allah ta’ala.
Al-Qur’an adalah mu’jizat terbesar Nabi Muhammad saw. Kemu’jizatannya itu diantaranya terletak pada fashahah dan balaghah-nya, Ilmu Nya, keindahan susunan dan gaya bahasanya yang tidak ada tandingannya. Karena gaya bahasa yang demikian itulah Umar bin Khatthab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur’an awal surat Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah. Abul Walid, terpaksa cepat-cepat pulang begitu mendengar beberapa ayat dari surat Fushshilat.[2]
Karena demikian tingginya bahasa Al-Qur’an, mustahil manusia dapat membuat susunan yang serupa dengannya, apalagi menandinginya. Orang yang ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah ditentang oleh Allah ta’ala:
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad) buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar.” (QS. Al-Baqarah: 23)
Allah sendiri kemudian menegaskan bahwa tidak akan pernah ada seorang pun yang mampu menjawab tantangan ini (QS. 2: 24). Bahkan seandainya bekerjasama jin dan manusia untuk membuatnya, tetap tidak akan sanggup (QS. 17: 88).
Selain itu, kemukjizatan Al-Qur’an juga terletak pada isinya. Perhatikanlah, sampai saat ini Al-Qur’an masih menjadi sumber rujukan utama bagi para pengkaji ilmu sosial, sains, bahasa, atau ilmu-ilmu lainnya.
Dan inilah BUKTI bahawa, Mukjizat itu dapat di pelajari. Di ambil pelajarannya
Menurut Miftah Faridl, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia, apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (7: 158) yang hidup pada awal abad ke enam Masehi (571-632 M)
Berbagai kabar ghaib tentang masa lampau (tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba’, Tsamud, ‘Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa, dll) dan masa depan pun menjadi bukti lain kemu’jizatan Al-Qur’an. Sementara itu jika kita perhatikan cakupan materinya, nampaklah bahwa Al-Qur’an itu mencakup seluruh aspek kehidupan: masalah aqidah, ibadah, hukum kemasyarakatan, etika, moral dan politik, terdapat di dalamnya.
Sepatutnya, Inilah Keutamaan Umat Islam, Belajar dan memohon taufik hidayahnya, agar tidak akan Sesat. Beginilah maksud pesanan Rasulullah, dan Allah menyeru agar pembacanya mengambil Pelajaran darinya
InshaAllah ya
Sucikanlah diri, Jujurlah membacanya
Semoga mendapat HidayahNya
InshaAllah
wahdahu laasyarikalah
Mu’jizat artinya suatu perkara yang luar biasa, Mu’jizat itu dianugerahkan kepada para nabi dan rasul dengan maksud mengukuhkan kenabian dan kerasulannya, serta menjadi bukti bahwa agama yang dibawa oleh mereka adalah Islam daripada Allah ta’ala.
Al-Qur’an adalah mu’jizat terbesar Nabi Muhammad saw. Kemu’jizatannya itu diantaranya terletak pada fashahah dan balaghah-nya, Ilmu Nya, keindahan susunan dan gaya bahasanya yang tidak ada tandingannya. Karena gaya bahasa yang demikian itulah Umar bin Khatthab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur’an awal surat Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah. Abul Walid, terpaksa cepat-cepat pulang begitu mendengar beberapa ayat dari surat Fushshilat.[2]
Karena demikian tingginya bahasa Al-Qur’an, mustahil manusia dapat membuat susunan yang serupa dengannya, apalagi menandinginya. Orang yang ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah ditentang oleh Allah ta’ala:
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad) buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar.” (QS. Al-Baqarah: 23)
Allah sendiri kemudian menegaskan bahwa tidak akan pernah ada seorang pun yang mampu menjawab tantangan ini (QS. 2: 24). Bahkan seandainya bekerjasama jin dan manusia untuk membuatnya, tetap tidak akan sanggup (QS. 17: 88).
Selain itu, kemukjizatan Al-Qur’an juga terletak pada isinya. Perhatikanlah, sampai saat ini Al-Qur’an masih menjadi sumber rujukan utama bagi para pengkaji ilmu sosial, sains, bahasa, atau ilmu-ilmu lainnya.
Dan inilah BUKTI bahawa, Mukjizat itu dapat di pelajari. Di ambil pelajarannya
Menurut Miftah Faridl, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia, apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (7: 158) yang hidup pada awal abad ke enam Masehi (571-632 M)
Berbagai kabar ghaib tentang masa lampau (tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba’, Tsamud, ‘Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa, dll) dan masa depan pun menjadi bukti lain kemu’jizatan Al-Qur’an. Sementara itu jika kita perhatikan cakupan materinya, nampaklah bahwa Al-Qur’an itu mencakup seluruh aspek kehidupan: masalah aqidah, ibadah, hukum kemasyarakatan, etika, moral dan politik, terdapat di dalamnya.
Sepatutnya, Inilah Keutamaan Umat Islam, Belajar dan memohon taufik hidayahnya, agar tidak akan Sesat. Beginilah maksud pesanan Rasulullah, dan Allah menyeru agar pembacanya mengambil Pelajaran darinya
InshaAllah ya
Sucikanlah diri, Jujurlah membacanya
Semoga mendapat HidayahNya
InshaAllah
wahdahu laasyarikalah
Wednesday, March 5, 2014
Redha Allah
Dan Allah jualah yang memiliki timur dan barat,
maka ke mana sahaja kamu arahkan diri (ke kiblat untuk mengadap Allah) maka di situlah arah yang diredhai Allah; sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmatNya dan limpah kurniaNya), lagi sentiasa Mengetahui. (Al-Baqarah 2:115)
To Allah belong the east and the West: Whithersoever ye turn, there is the presence of Allah. For Allah is all-Pervading, all-Knowing.
Diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai (binatang yang tidak disembelih),
dan darah (yang keluar mengalir), dan daging babi (termasuk semuanya),
dan binatang-binatang yang disembelih kerana yang lain dari Allah,
dan yang mati tercekik, dan yang mati dipukul, dan yang mati jatuh dari tempat yang tinggi,
dan yang mati ditanduk, dan yang mati dimakan binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih (sebelum habis nyawanya), dan yang disembelih atas nama berhala;
dan (diharamkan juga) kamu merenung nasib dengan undi batang-batang anak panah.
Yang demikian itu adalah perbuatan fasik.
Pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa (daripada memesongkan kamu) dari agama kamu (setelah mereka melihat perkembangan Islam dan umatnya). Sebab itu janganlah kamu takut dan gentar kepada mereka, sebaliknya hendaklah kamu takut dan gentar kepadaKu.
Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redhakan Islam itu menjadi agama untuk kamu.
Maka sesiapa yang terpaksa kerana kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang ia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakannya), kerana sesungguhnya Allah maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (Al-Maaidah 5:3)
Forbidden to you (for food) are: dead meat, blood, the flesh of swine, and that on which hath been invoked the name of other than Allah. that which hath been killed by strangling, or by a violent blow, or by a headlong fall, or by being gored to death; that which hath been (partly) eaten by a wild animal; unless ye are able to slaughter it (in due form); that which is sacrificed on stone (altars); (forbidden) also is the division (of meat) by raffling with arrows: that is impiety. This day have those who reject faith given up all hope of your religion: yet fear them not but fear Me. This day have I perfected your religion for you, completed My favour upon you, and have chosen for you Islam as your religion. But if any is forced by hunger, with no inclination to transgression, Allah is indeed Oft-forgiving, Most Merciful.
1. Segala apa yang dilarang oleh Rasulullah S.A.W adalah semua perkara yang haram dari segala macam bentuk maksiat dan kejahatan sama ada berhubung dengan diri, masyarakat dan lain-lainnya. Ada yang berkait dengan harta benda seperti larangan mencuri, merompak, meragut atau membazirkan wang di mana setiap larangan itu ada hikmah dan faedahnya.
2. Manakala segala bentuk suruhan pula hendaklah dikerjakan menurut kadar yang dapat dilakukan sesuai dengan kekuatan atau kemampuan yang ada. Sesiapa pun tidak harus meninggalkan atau mencuaikannya tetapi mestilah dilaksanakan secara bersungguh-sungguh dengan penuh ketaatan.
3. Punca kebinasaan umat-umat sebelum ini adalah disebabkan perselisihan terhadap nabi-nabi mereka. Mereka suka membantah dan menentang apa-apa yang disampaikan serta banyak mengemukakan pertanyaan yang bukan-bukan sehingga menimbulkan banyak masalah dan akhirnya menyulitkan keadaan.
maka ke mana sahaja kamu arahkan diri (ke kiblat untuk mengadap Allah) maka di situlah arah yang diredhai Allah; sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmatNya dan limpah kurniaNya), lagi sentiasa Mengetahui. (Al-Baqarah 2:115)
To Allah belong the east and the West: Whithersoever ye turn, there is the presence of Allah. For Allah is all-Pervading, all-Knowing.
Diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai (binatang yang tidak disembelih),
dan darah (yang keluar mengalir), dan daging babi (termasuk semuanya),
dan binatang-binatang yang disembelih kerana yang lain dari Allah,
dan yang mati tercekik, dan yang mati dipukul, dan yang mati jatuh dari tempat yang tinggi,
dan yang mati ditanduk, dan yang mati dimakan binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih (sebelum habis nyawanya), dan yang disembelih atas nama berhala;
dan (diharamkan juga) kamu merenung nasib dengan undi batang-batang anak panah.
Yang demikian itu adalah perbuatan fasik.
Pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa (daripada memesongkan kamu) dari agama kamu (setelah mereka melihat perkembangan Islam dan umatnya). Sebab itu janganlah kamu takut dan gentar kepada mereka, sebaliknya hendaklah kamu takut dan gentar kepadaKu.
Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redhakan Islam itu menjadi agama untuk kamu.
Maka sesiapa yang terpaksa kerana kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang ia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakannya), kerana sesungguhnya Allah maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (Al-Maaidah 5:3)
Forbidden to you (for food) are: dead meat, blood, the flesh of swine, and that on which hath been invoked the name of other than Allah. that which hath been killed by strangling, or by a violent blow, or by a headlong fall, or by being gored to death; that which hath been (partly) eaten by a wild animal; unless ye are able to slaughter it (in due form); that which is sacrificed on stone (altars); (forbidden) also is the division (of meat) by raffling with arrows: that is impiety. This day have those who reject faith given up all hope of your religion: yet fear them not but fear Me. This day have I perfected your religion for you, completed My favour upon you, and have chosen for you Islam as your religion. But if any is forced by hunger, with no inclination to transgression, Allah is indeed Oft-forgiving, Most Merciful.
Dari
Abu Hurairah Abdul Rahman bin Sakhr r.a katanya:”Aku mendengar
Rasulullah S.A.W bersabda:”Apa yang aku tegahkan kamu daripadanya maka
hendaklah kamu menjauhinya dan apa yang aku perintahkan kamu dengannya
maka hendaklah kamu kerjakan daripadanya apa yang kamu mampu.
Sesungguhnya telah binasa orang-orang yang sebelum kamu oleh sebab
banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi
mereka.”
(Bukhari & Muslim)
Huraian
1. Segala apa yang dilarang oleh Rasulullah S.A.W adalah semua perkara yang haram dari segala macam bentuk maksiat dan kejahatan sama ada berhubung dengan diri, masyarakat dan lain-lainnya. Ada yang berkait dengan harta benda seperti larangan mencuri, merompak, meragut atau membazirkan wang di mana setiap larangan itu ada hikmah dan faedahnya.
2. Manakala segala bentuk suruhan pula hendaklah dikerjakan menurut kadar yang dapat dilakukan sesuai dengan kekuatan atau kemampuan yang ada. Sesiapa pun tidak harus meninggalkan atau mencuaikannya tetapi mestilah dilaksanakan secara bersungguh-sungguh dengan penuh ketaatan.
3. Punca kebinasaan umat-umat sebelum ini adalah disebabkan perselisihan terhadap nabi-nabi mereka. Mereka suka membantah dan menentang apa-apa yang disampaikan serta banyak mengemukakan pertanyaan yang bukan-bukan sehingga menimbulkan banyak masalah dan akhirnya menyulitkan keadaan.
Semoga dapat melihat, dan Menilai serta memilih Amal Ibadah Yang Allah redha
Agar dapat nikmat di Akhirat juga di dunia
Benarlah, sekiranya tak mahu SESAT, hendaklah berpandukan AlQuran dan sunnah serta kasihi Ahli Bayt nabi
sallallahu alaihi wasallam
Tuesday, March 4, 2014
Tak Mahu SESAT
Dari Zaid bin Arqam, r.a. katanya: Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Kitab Allah Azza wa Jalla ialah tali Allah (sebab yang membawa kepada rahmat Allah),
sesiapa yang menurutnya: Beradalah ia dalam hidayat pertunjuk yang
sebenar-benarnya dan (sebaliknya) sesiapa yang meninggalkannya:
Beradalah ia dalam kesesatan. " (Muslim)
Penulisan kali ini, mengajak kalian berfikir
Tentang apa yang kita turuti dari kelakuan Nasrani
Kita semua tahu, Bagaimanakah wakil wakil Penguasa Agama Kristian, menerbitkan, berbagai bagai BIBLE, dari penulisan sendiri
Yang Kita Muslim turut ialah, kita juga menulis Kitab kitab di samping AlQuran
Dan berbagai bagai maklumat bercampur aduk kerana keterlaluan menurut ilmu laduni, dan sebagainya,
Umat akhir kini pula, keterlaluan berpegang kepada kitab kitab ulamak
Berbanding Kitab AlQuran, serta juga Kitab Hadis Muktabar
Jadi, perasan idak
Sama saja Kelakuan
Sepertimana Wakil wakil nabi isa, yang tidak berpegang kepada INJIL sebaliknya menulis sendiri BIBLE
Atas sebab inilah Allah mewahyukan AlQuran kepada nabi Muhammad SAW
Sekiranya kita tidak mahu sesat, Utamakanlah AlQuran dan Sunnah serta lihatlah ahli bayt nabi SAW
Sesiapa yang di Hidayahkan Allah, tiada sesiapa dapat menyesatkannya
Hamba hamba KAMI yang Ikhlas, syaitan tidak dapat menguasai
Sesiapa yang di sesatkan - oleh pilihan sendiri
Tiada sesiapa dapat hidayahkannya
Subhanallah
Wahdahu laasyarikalah
Dari Al-'Irbaadh bin Sariyah, r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. telah menasihati dan mengingati kami, pada suatu hari lepas sembahyang Subuh, dengan satu nasihat dan peringatan yang sangat-sangat mendalam dan berkesan, yang menjadikan (Pendengar-pendengarnya) menitiskan air mata dan menjadikan hati (mereka) gerun gementar. Lalu berkatalah salah seorang lelaki (di antara kami): "Sesungguhnya nasihat ini nasihat orang yang memberi selamat tinggal, maka apakah pesanan yang tuan hendak pesankan kepada kami Ya Rasulullah? " Baginda menjawab: "Aku berpesan kepada kamu dengan taqwa kepada Allah, dan mendengar serta taat kepada (pemerintah kamu) sekalipun ia seorang hamba bangsa Habsyi, kerana sesungguhnya sesiapa di antara kamu yang hidup (selepas ku) akan melihat perselisihan yang banyak dan
(dengan yang demikian) berjaga-jagalah kamu, jauhkanlah diri dan
perkara-perkara baharu (yang diada-adakan dalam agama), kerana
sesungguhnya perkara-perkara itu adalah sesat; oleh itu sesiapa di antara kamu yang berada dalam zaman berlakunya yang demikian, maka hendaklah ia menurut jalanku dan jalan khalifah-khalifah (ku) yang mendapat pimpinan lagi beroleh hidayat pertunjuk; berpegang teguhlah kamu kepadanya dengan seteguh-teguhnya." (Tirmizi)
Perlunya berpandu kepada jalan bawaan Rasulullah S.A.W. dan jalan pimpinan khalifah-khalifah Ar-Rasyidin
Dari Abdullah bin 'Amr r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Demi sesungguhnya akan berlaku kepada umatku perkara-perkara yang betul-betul sama seperti apa yang telah berlaku kepada Bani Israil, sehingga jika ada di antara mereka orang yang berzina dengan
ibunya dengan berterang-terang, nescaya akan ada dalam kalangan umatku
orang yang melakukan perkara yang demikian; dan sesungguhnya kaum Bani Israil telah berpecah belah kepada tujuh puluh dua puak dan umatku pula akan berpecah belah kepada tujuh puluh tiga puak, semuanya (akan dihumbankan) dalam neraka kecuali satu puak sahaja". Sahabat-sahabat Baginda bertanya: "Siapa dia puak yang satu itu ya Rasulullah? " Baginda menjawab: "Puak itu ialah puak yang tetap di atas jalanku dan jalan sahabat-sahabatku." (Tirmizi)
Tuan puan yang MuliaPenulisan kali ini, mengajak kalian berfikir
Tentang apa yang kita turuti dari kelakuan Nasrani
Kita semua tahu, Bagaimanakah wakil wakil Penguasa Agama Kristian, menerbitkan, berbagai bagai BIBLE, dari penulisan sendiri
Yang Kita Muslim turut ialah, kita juga menulis Kitab kitab di samping AlQuran
Dan berbagai bagai maklumat bercampur aduk kerana keterlaluan menurut ilmu laduni, dan sebagainya,
Umat akhir kini pula, keterlaluan berpegang kepada kitab kitab ulamak
Berbanding Kitab AlQuran, serta juga Kitab Hadis Muktabar
Jadi, perasan idak
Sama saja Kelakuan
Sepertimana Wakil wakil nabi isa, yang tidak berpegang kepada INJIL sebaliknya menulis sendiri BIBLE
Atas sebab inilah Allah mewahyukan AlQuran kepada nabi Muhammad SAW
Sekiranya kita tidak mahu sesat, Utamakanlah AlQuran dan Sunnah serta lihatlah ahli bayt nabi SAW
Sesiapa yang di Hidayahkan Allah, tiada sesiapa dapat menyesatkannya
Hamba hamba KAMI yang Ikhlas, syaitan tidak dapat menguasai
Sesiapa yang di sesatkan - oleh pilihan sendiri
Tiada sesiapa dapat hidayahkannya
Subhanallah
Wahdahu laasyarikalah
Subscribe to:
Posts (Atom)